Internet Sebagai Alat Perubahan dan Gerakan Sosial

PENDAHULUAN

media sosial

Saling ketergantungan dan perkembangan manusia dalam masyarakat semakin meningkat dan senantiasa mengalami perubahan. Proses peningkatan ketergantunngan masyarakat yang disebut globalisasi ditandai dengan kesenjangan besar antara kekayaan dan tingkat hidup masyarakat. Menurutnya tiap tahun jutaan penduduk mati kelaparan meskipun produksi makanan di seluruh dunia cukup untuk memberi makan semua gejala orang (Giddens, 1989).  Gejala-gejala perubahan lain yang dicatat Giddens ialah tumbuh dan berkembangnya negara-negara industri baru (newly industrialized countries), dan semakin meningkatnya komunikasi  antar negara sebagai dampak teknologi komunikasi yang semakin canggih.

Sebagai makhluk sosial, manusia tidak dapat melepaskan diri dari hubungan dengan manusia lain. Sebagai akibat dari hubungan yang terjadi di antara manusia, lahirlah kelompok-kelompok sosial (sosial group) yang dilandasi oleh kesamaan kepentingan bersama. Namun bukan berarti semua himpunan manusia dapat dikatakan kelompok sosial. Untuk dikatakan kelompok sosial terdapat persyaratan-persyaratan tertentu. Dalam kelompok sosial yang telah tersusun susunan masyarakatnya akan terjadinya sebuah perubahan dalam susunan tersebut merupakan sebuah keniscayaan. Karena perubahan merupakan hal yang mutlak terjadi dimanapun tempatnya.

Salah satu fenomena menarik dalam perkembangan teknologi adalah adanya internet yang memberi kemudahan bagi orang untuk berhubungan dalam jangka waktu yang cepat, mudah dan massif. Internet juga memungkinkan kita berbagi ide dan mendiskusikan tentang segala hal dari yang bersifat keseharian hingga hal-hal yang lebih serius semisal kritik kebijakan pemerintah, tanpa dibatasi oleh jarak, ruang, dan waktu. Kecanggihan teknologi internet ini mampu memberikan alternatif saluran (salah satunya melalui situs jejaring sosial) bagi masyarakat untuk menyuarakan pendapat dan tanggapannya atas berbagai isu yang ada.

Siapapun kita, baik pelajar, mahasiswa, pekerja, entrepreneur, eksekutif, menteri, bahkan Presiden Barrack Obama sekalipun, rasanya tidak afdhal memulai hari jika belum menulis status baru di Facebook dan BBM, atau belum berkicau di Twitter tentang perasaan pagi ini, harapan atau cinta yang baru diputuskan semalam, semua ingin dibagikan kepada masyarakat planet baru yang bernama jejaring sosial. Pameo yang mengatakan bahwa dunia berada di dalam genggaman kini terbukti sudah. Tak perlu beranjak dari tempat tidur atau tempat duduk, karena layar ponsel telah menjadi jendela raksasa.

Dengan perangkat digital, kini setiap orang di dunia memiliki kesempatan yang sama dalam menggerakkan dan mengarahkan perubahan. Perusahaan global yang berbasis new media dan commerce oriented seperti Google, Facebook, Twitter, Yahoo, Blogger dan sederet korporasi media sosial lainnya, menjadi korporasi perubahan yang mentransformasi gagasan dan informasi sampai pada tahap mengubah paradigma masyarakat dalam berinteraksi dan mendesakkan perubahan. Dunia internet yang selama ini dikatakan “maya” telah berevolusi menjadi dunia yang real di tangan jejaring sosial. Hadirnya media sosial yang dijembatani cyberspace telah membentuk perilaku tersendiri. Facebook, BBM, Google, Blog dan Twitter, dalam waktu relatif singkat menjadi ruang raksasa yang menampung segala macam inforamasi, protes dan kritik hingga tuntutan revolusi dari masyarakat. Internet bukan lagi sekedar dunia maya, tetapi mentransformasi berbagai protes, kritik dan kekecewaan tersebut ke dalam dunia nyata. Bisa dalam bentuk apatisme terhadap politik, gerakan sosial, hingga tuntutan revolusi. Internet akan menjadi agen perubahan sosial di tangan generasi muda, di Indonesia khususnya. Menggunakan Internet dan media sosial sebagai sebagai platform interaksi, generasi muda Indonesia bisa dengan mudah membentuk kelompok untuk mengusung gagasan perubahan.

Jejaring sosial seperti facebookers ini sebagai salah satu bentuk perkembangan teknologi di bidang komunikasi sangat mempengaruhi perubahan sosial. Hukum seyogyanya juga dapat digunakan sebagai sarana social engineering yaitu melalui penggunaan secara sadar untuk mencapai suatu tertib atau keadaan masyarakat sebagaimana dicita-citakan atau untuk melakukan perubahan-perubahan yang diinginkan. Bagaimanakah peran internet sebagai alat
perubahan dan gerakan sosial?

TINJAUAN TEORI

A.        INTERNET

Internet  saat  ini  menjadi  alat bantu  yang berguna  bagi  pemenuhan  kebutuhan informasi.  Internet  telah  banyak  digunakan  di  seluruh  dunia,  salah  satunya  adalah Indonesia.  Hampir  seluruh   lapisan  masyarakat   di indonesia   telah menggunakan internet. Bahkan hampir seluruh lapisan pendidikan mulai memperkenalkan internet kepada anak didiknya. Tidak hanya SMA, bahkan Sekolah Dasar pun telah menerapkan pengenalan tentang internet. Semakin banyak masyarakat yang menggunakan internet, nampaknya memiliki pengaruh terhadap gaya hidup, terutama pada masyarakat di kota-kota besar. Internet ibarat komedi putar. Kita bisa berkeliling dunia dengan tetap berada di satu tempat. Kita bisa menjelajahi dunia yang berbeda, berkenalan dengan orang baru, mendapatkan informasi dan pandangan baru. Ayo berkendara dan nikmati internet untuk kehidupan lebih baik.

Internet bukan sekedar alat. Internet bukan sekedar teknologi. Internet adalah media baru. Internet adalah dunia baru. Internet membuat lebih banyak orang untuk memberdayakan diri dalam berbagai bidang kehidupan. Internet menjadi media bagi siapapun untuk selangkah lebih maju. Internet adalah suatu jaringan komputer global yang terbentuk dari jaringan-jaringan komputer lokal dan regional, yang memungkinkan komunikasi data antar komputer-komputer yang terhubung dengan jaringan tersebut, sehingga dapat berkomunikasi atau berbagi data tanpa melihat jenis komputer itu sendiri (Anonim, 1996).

Perkembangan internet masa kini telah memberikan banyak dinamika baru. Sejalan dengan perkembangan jaman, kemajuan teknologi internet semakin maju. Saat ini jumlah web mencapai jutaan, bahkan mungkin trilyunan dan memuat bermacam-macam topik. Situs-situs itubai menjadi sumber informasi baik positif maupun negatif.

Internet, jika dibandingkan dengan media komunikasi dan informasi lain memiliki faktor yang menjadi kelebihan atau berdampak postifnya, yaitu :

(1)     Perpustakan raksasa. Intenet memberikan sambungan (konektivitas) dan jangkauan yang sangat luas. Telah mempermudah sistem kehidupan. Internet bagi remaja dan anak-anak memberikan ruang sebagai tempat belajar yang sangat efektif dan baik. Merupakan bentuk perpustakaan raksasa yang menyediakan banyak hal pengetahuan yang tidak ditemukan di perpustakaan dunia nyata. Menyediakan disiplin ilmu yang sangat luas.

(2)     Ruang belajar teknologi dan sebagai media komunikasi yang mempengaruhi akses komunikasi. Banyak remaja dan anak-anak memanfaatlan internet sebagai ruang belajar perkembangan teknologi. Kehadiran layanan streaming diinternet, informasi tidak hanya bisa diakses dari layar kaca. Internet memberikan suguhan aneka informasi yang upto-date. Sebagai media pertukaran data, dengan menggunakan email, newsgroup, ftp dan www (word wide web) atau jaringan situs-situs web lainnya, para pengguna internet di seluruh dunia dapat saling bertukar informasi dengan cepat dan murah dibandingkan dengan mencari informasi pada halaman-halaman buku maupun koran.

(3)     Internet telah banyak membantu manusia dalam segala aspek kehidupan sehingga internet mempunyai andil penuh dalam kehidupan sosial. Dengan adanya internet apapun dapat dilakukan baik positif maupun negatif.

(4)     Akses informasi di internet tidak dibatasi oleh ruang dan waktu karena sifat dari internet yang dihadirkan secara global tidak mengenal perbedaan wilayah geografi atau perbedaan waktu. Informasi yang dihadirkan dengan biaya murah, jika dibandingkan dengan membeli buku atau majalah penelusuran informasi melalui internet jauh lebih murah. Dengan sekali klik kini kita dapat mengakses ribuan bahkan jutaan informasi di seantero dunia. Faktor konvergensi informasi juga merupakan kelebihan Internet.  Informasi yang tersebar di seluruh ranah online akhirnya dapat bermuara pada satu tempat yaitu internet.

Sedangkan dampak negatif dari internet diantaranya adalah :

(1)     Cybercrime, adalah kejahatan yang dilakukan seseorang dengan sarana internet di dunia maya yang bersifat : (a) melintasi batas negara; (b) perbuatan dilakukan secara illegal; (c) kerugian sangat besar; dan (d) sulit membuktikan secara hukum. Bentuk-bentuk cybercrime adalah :

1)       Hacking, usaha memasuki sebuah jaringan dengan maksud mengeksplorasi atupun mencari kelemahan sistem jaringan.

2)       Cracking, usaha memasuki secara illegal sebuah jaringan dengan maksud mencuri, mengubah atau menghancurkan file yang di simpan pada jaringan tersebut.

(2)     Parnografi. Anggapan bahwa internet identik dengan parnografi, memang tidak salah. Dengan kemampuan penyampaian informasi yang dimiliki internet, pornografi pun merajalela. Untuk mengantisipasi hal ini, para produsen ‘browser’ melengkapi program mereka dengan kemampuan untuk memilih jenis home page yang dapat diakses. Di internet terdapat gambar-gambar pornografi dan kekerasan yang bisa mengakibatkan dorongan kepada seseorang untuk bertindak kriminal

(3)     Violence and Gore. Kekejaman dan kesadisan juga banyak ditampilkan. Karena segi bisnis dan isi pada dunia internet tidak terbatas, maka para pemilik situs menggunakan segala macam cara agar dapat ‘menjual’ situs mereka. Salah satunya dengan menampilkan hal-hal yang bersifat tabu.

(4)     Penipuan. Hal ini memang merajalela di bidang manapun. Internet pun tidak luput dari serangan penipu. Cara yang terbaik adalah tidak mengindahkan hal ini atau mengkonfirmasi informasi yang Anda dapatkan pada penyedia informasi tersebut.

(5)     Carding. Karena sifatnya yang real time (langsung), cara belanja dengan menggunakan kartu kredit adalah cara yang paling banyak digunakan dalam dunia internet. Para penjahat internet pun paling banyak melakukan kejahatan dalam bidang ini. Dengan sifat yang terbuka, para penjahat mampu mendeteksi adanya transaksi (yang menggunakan kartu kredit) on-line dan mencatat kode kartu yang digunakan. Untuk selanjutnya mereka menggunakan data yang mereka dapatkan untuk kepentingan kejahatan mereka.

(6)     Perjudian. Dengan jaringan yang tersedia, para penjudi tidak perlu pergi ke tempat khusus untuk memenuhi keinginannya. Anda hanya perlu menghindari situs seperti ini, karena umumnya situs perjudian tidak agresif dan memerlukan banyak persetujuan dari pengunjungnya.

(7)     Mengurangi sifat sosial manusia. Karena cenderung lebih suka berhubungan lewat internet daripada bertemu secara langsung (face to face). Dari sifat sosial yang berubah dapat mengakibatkan perubahan pola masyarakat dalam berinteraksi.Kejahatan seperti menipu dan mencuri dapat dilakukan di internet (kejahatan juga ikut berkembang). Bisa membuat seseorang kecanduan, terutama yang menyangkut parnografi dan dapat menghabiskan uang karena hanya untuk melayani kecanduan tersebut.

(8)     Mengurangi kinerja. Banyak karyawan perusahaan, dosen, mahasiswa yang bermain facebook pada saat sedang bekerja. Mau diakui atau tidak pasti mengurangi waktu kerja

(9)     Berkurangnya perhatian terhadap keluarga. Mau diakui atau tidak ini terjadi jika kita membuka facebook saat sedang bersama keluarga. Sebuah riset di inggris menunjukan bahwa orang tua semakin sedikit waktunya dengan anak-anak mereka karena berbagai alasan. Salah satunya karena Facebook. Bisa terjadi sang suami sedang menulis wall, si istri sedang membuat koment di foto sementara anaknya diurusi pembantu.

(10) Batasan ranah pribadi dan sosial yang menjadi kabur. Di Facebook kita bebas menuliskan apa saja, sering kali tanpa sadar kita menuliskan hal yang seharusnya tidak disampaikan ke lingkup sosial. Persoalan rumah tangga seseorang tanpa sadar bisa diketahui orang lain dengan hanya memperhatikan status dari orang tersebut.

(11) Tersebarnya data/informasi penting yang tidak semestinya. Seringkali pengguna Facebook tidak menyadari beberapa data penting yang tidak semestinya ditampilkan secara terbuka. Seperti sudah dijelaskan dalam artikel tentang keamanan facebook, default dari info kita seharusnya tertutup dan tidak tertampil. Kalau memang ada yang perlu baru dibuka satu per satu sesuai kebutuhan

Sejarah selalu mencatat bahwa perubahan di Indonesia selalu digagas oleh kaum muda. Menggunakan Internet dan media sosial sebagai sebagai platform interaksi, generasi muda Indonesia bisa dengan mudah membentuk kelompok untuk mengusung gagasan perubahan. Internet sebagai alat potensial untuk menggugah perubahan di masyarakat, dan perubahan itu tidak akan terjadi bila inisiatif di media digital tidak dilanjutkan dengan aksi di dunia nyata.

B.        PERUBAHAN SOSIAL

Perubahan sosial adalah perubahan dalam hubungan interaksi antar orang, organisasi atau komunitas, dapat menyangkut “struktur sosial” atau “pola nilai dan norma” serta “peran”. Secara lebih lengkap mestinya adalah “perubahan sosial-kebudayaan” karena memang antara manusia sebagai makhluk sosial tidak dapat dipisahkan dengan kebudayaan itu sendiri. Proses perubahan sosial biasa tediri dari tiga tahap :

1.       Invensi, yakni proses di mana ide-ide baru diciptakan dan dikembangkan.

2.       Difusi, yakni proses di mana ide-ide baru itu dikomunikasikan ke dalam sistem sosial.

3.       Konsekuensi, yakni perubahan-perubahan yang terjadi dalam sistem sosial sebagai akibat pengadopsian atau penolakan inovasi. Perubahan terjadi jika penggunaan atau penolakan ide baru itu mempunyai akibat.

Ada 2 (dua) faktor  yang menyebabkan perubahan sosial dalam masyarakat, yaitu :

1.    Faktor Intern

a.  Bertambah dan berkurangnya penduduk

b.  Adanya penemuan-penemuan baru yang meliputi berbagai proses, seperti di bawah ini :

1)   Discovery, penemuan unsur kebudayaan baru

2)   Invention, pengembangan dari discovery

3)   Inovasi, proses pembaharuan

c.   Konflik dalam masyarakat, konflik (pertentangan) yang dimaksud adalah konflik antara individu dalam masyarakatnya, antara kelompok dan lain-lain.

d.   Pemberontakan dalam tubuh masyarakat, revolusi Indonesia 17 Agustus 1945 mengubah struktur pemerintahan kolonial menjadi pemerintah nasional dan berbagai perubahan struktur yang mengikutinya.

2.     Faktor Ekstern

a.    Faktor alam yang ada di sekitar masyarakat yang berubah, seperti bencana alam.

b.    Pengaruh kebudayaan lain melalui adanya kontak kebudayaan antara dua masyarakat atau lebih yang memiliki kebudayaan yang berbeda. Akulturasi dan asimilasi kebudayaan berperan dalam perubahan ini.

Menurut Max Weber dalam Berger (2004), bahwa, tindakan sosial atau aksi sosial (sosial action) tidak bisa dipisahkan dari proses berpikir rasional dan tujuan yang akan dicapai oleh pelaku. Tindakan sosial dapat dipisahkan menjadi empat macam tindakan menurut motifnya: (1) tindakan untuk mencapai satu tujuan tertentu, (2) tindakan berdasar atas adanya satu nilai tertentu,          (3) tindakan emosional, serta (4) tindakan yang didasarkan pada adat kebiasaan (tradisi). Kenyataan mengenai perubahan-perubahan dalam masyarakat dapat dianalisa dari berbagai segi diantaranya: ke “arah” mana perubahan dalamn masyarakat itu bergerak (direction of change), yang jelas adalah bahwa perubahan itu bergerak meninggalkan faktor yang diubah. Akan tetapi setelah meninggalkan faktor itu mungkin perubahan itu bergerak kepada sesuatu bentuk yang baru sama sekali, akan tetapi boleh pula bergerak kepada suatu bentuk yang sudah ada di dalam waktu yang lampau.

Pada dasarnya perilaku manusia dapat dipahami dengan melihat struktur tempat perilaku tersebut terjadi daripada melihat kepribadian individu yang melakukannya. Sifat struktural seperti sentralisasi, formalisasi dan stratifikasi jauh lebih erat hubungannya dengan perubahan dibandingkan kombinasi kepribadian tertentu di dalam organisasi. Langkah-langkah yang dapat diambil untuk mengelola perubahan, yaitu :

(1)     Unfreezing, merupakan suatu proses penyadaran tentang perlunya, atau adanya kebutuhan untuk berubah.

(2)     Changing, merupakan langkah tindakan, baik memperkuat driving forces maupun memperlemah resistances.

(3)      Refreesing, membawa kembali kelompok kepada keseimbangan yang baru (a new dynamic equilibrium).

Wilbert Moore (2000) dalam Lauer (2003) mendefinisikan perubahan sosial sebagai perubahan perubahan penting dari struktur sosial (pola-pola perilaku dan interaksi sosial) seperti norma, nilai, dan perubahan budaya. Perubahan dalam kebudayaan mencakup semua bagian, yang meliputi kesenian, ilmu pengetahuan, teknologi, filsafat dan lainnya. Akan tetapi perubahan tersebut tidak mempengaruhi organisasi sosial masyarakatnya. Ruang lingkup perubahan kebudayaan lebih luas dibandingkan perubahan sosial. Namun demikian dalam prakteknya di lapangan kedua jenis perubahan perubahan tersebut sangat sulit untuk dipisahkan (Soekanto, 1990). Aksi sosial dapat berpengaruh terhadap perubahan sosial masyarakat, karena perubahan sosial merupakan bentuk intervensi sosial yang memberi pengaruh kepada klien atau sistem klien yang tidak terlepas dari upaya melakukan perubahan berencana. Pemberian pengaruh sebagai bentuk intervensi berupaya menciptakan suatu kondisi atau perkembangan yang ditujukan kepada seorang klien atau sistem agar termotivasi untuk bersedia berpartisipasi dalam usaha perubahan sosial.

Menurut Selo Soemardjan (dalam Soekanto, 1990), perubahan sosial adalah segala perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan dalam suatu masyarakat, yang  mempengaruhi sistem sosialnya, termasuk didalamnya nilai-nilai, sikap-sikap dan pola-pola perilaku diantara kelompok-kelompok dalam masyarakat”. Definisi ini menekankan perubahan lembaga sosial, yang selanjutnya mempengaruhi segi-segi lain struktur masyarakat. Lembaga sosial ialah unsur yang mengatur pergaulan hidup untuk mencapai tata tertib melalui norma. Definisi lain dari perubahan sosial adalah segala perubahan yang terjadi dalam lembaga kemasyarakatan dalam suatu masyarakat, yang mempengaruhi sistem sosialnya. Tekanan pada definisi tersebut adalah pada lembaga masyarakat sebagai himpunan kelompok manusia dimana perubahan mempengaruhi struktur masyarakat lainnya (Soekanto, 1990). Perubahan sosial terjadi karena adanya perubahan dalam unsur-unsur yang mempertahankan keseimbangan masyarakat seperti misalnya perubahan dalam unsur geografis, biologis, ekonomis dan kebudayaan.

Perubahan peradaban biasanya dikaitkan dengan perubahan elemen atau aspek yang lebih bersifat fisik, seperti transportasi, persenjataan, jenis-jenis bibit unggul yang ditemukan, dan sebagainya. Perubahan budaya berhubungan dengan perubahan yang bersifat rohani seperti keyakinan, nilai, pengetahuan, ritual, apresiasi seni, dan sebagainya. Sedangkan perubahan sosial terbatas pada aspek-aspek hubuingan sosial dan keseimbangannya. Meskipun begitu perlu disadari bahwa sesuatu perubahan di masyarakat selamanya memiliki mata rantai diantaranya elemen yang satu dan eleman yang lain dipengaruhi oleh elemen yang lainnya.

Faktor yang menghambat terjadinya perubahan adalah kurang intensifnya hubungan komunikasi dengan masyarakat lain; perkembangan IPTEK yang lambat; sifat masyarakat yang sangat tradisional; ada kepentingan-kepentingan yang tertanam dengan kuat dalam masyarakat; prasangka negatif terhadap hal-hal yang baru; rasa takut jika terjadi kegoyahan pada masyarakat bila terjadi perubahan; hambatan ideologis; dan pengaruh adat atau kebiasaan. Sedangkan perubahan sosial terbatas pada aspek-aspek hubungan sosial dan keseimbangannya. Meskipun begitu perlu disadari bahwa sesuatu perubahan di masyarakat selamanya memiliki mata rantai diantaranya elemen yang satu dan eleman yang lain dipengaruhi oleh elemen yang lainnya.

B.    Gerakan Sosial

Menurut Wikipedia, Gerakan sosial (sosial movement) adalah aktivitas sosial berupa gerakan sejenis tindakan sekelompok yang merupakan kelompok informal yang berbetuk organisasi, berjumlah besar atau individu yang secara spesifik berfokus pada suatu isu-isu sosial atau politik dengan melaksanakan, menolak, atau mengkampanyekan sebuah perubahan sosial. Menurut Sztompka (2010) definisi gerakan sosial harus terdiri dari komponen :

1)       Kolektivitas orang yang bertindak bersama.

2)       Tujuan bersama tindakannya adalah perubahan tertentu dalam masyarakat yang ditetapkan partisipan menurut cara yang sama.

3)       Kolektivitasnya relatif tersebar namun lebih rendah derajatnya daripada organisasi formal.

4)       Tindakannya mempunyai derajat spontanitas lebih tinggi, tidak terlembaga dan bentuknya tidak konvensional.

Jadi gerakan sosial adalah tindakan kolektif yang diorganisir secara longgar, tanpa cara terlembaga untuk menghasilkan perubahan dalam masyarakat mereka. Menurut Lauer (1976) dalam Sztompka (2010) gerakan sosial adalah upaya kolektif untuk mengendalikan  perubahan atau untuk mengubah arah perubahan. Keterkaitan antara gerakan sosial dan perubahan sosial yang diamati Wood & Jackson dalam Sztompka (2010) yaitu,  perubahan sosial adalah basis yang menentukan ciri-ciri gerakan sosial. Gerakan sosial berkaitan erat dengan perubahan sosial. Gerakan sosial muncul dalam segala bentuk dan ukuran. Tipe gerakan sosial menggunakan beberapa kriteria sebagai berikut :

a)       Gerakan sosial menurut lingkup atau bidang perubahan yang diinginkan; a) Gerakan reformasi; Terbatas pada tujuannya hanya untuk mengubah aspek tertentu kehidupan masyarakat tanpa menyentuh inti struktur institusinya, gerakan yang hanya menginginkan perubahan di dalam ketimbang perubahan masyarakat sebagai keseluruhan. Contoh : gerakan pro dan antiaborsi yang menuntut perubahan UU yang sepantasnya, dan gerakan perlindungan hak-hak binatang.

b)       Gerakan radikal; Gerakan yang didedikasikan untuk adanya perubahan segera terhadap sistem nilai dengan melakukan perubahan-perubahan secara substansi dan mendasar, tidak seperti gerakan reformasi. Contoh : gerakan hak-hak sipil di AS, gerakan antiapharteid di Afrika Selatan, dan gerakan pembebasan nasional di negara kolonial.

c)       Transformative Social Movements atau Revolutinary Movements , merupakan gerakan sosial yang menginginkan perubahan menyeluruh dalam kehidupan bermasyarakat, baik itu sistem sosial, sistem budaya, sistem ekonomi, maupun sistem politiknya. Misalnya gerakan kaum Khmer Merah yang ingin mengubah masyarakat Kamboja sebagai masyarakat komunis, Revolusi di Uni Soviet tahun 30-an, Revolusi China pada tahun 1949, dan sebagainya. Misalnya, revolutionary Movements masyarakat Rusia pada tahun 1917 yang berhasil mengubah sistem sosial, budaya, ekonomi, maupun politik Rusia menjadi sistem komunis. Demikian juga yang terjadi di China pada 1949. Kedua peristiwa ini memenuhi syarat revolusi yang dikemukakan oleh Antony Giddens, bahwa sebuah revolusi itu; (1) melibatkan gerakan sosial secara massal, (2)  menghasilkan proses reformasi atau perubahan, dan (3) menggunakan ancaman dan kekerasan.

d)       Gerakan sosial berdasarkan kualitas perubahan yang diinginkan; a) Gerakan progresif,  menekankan pada inovasi, berjuang untuk memperkenalkan institusi baru, hukum baru, bentuk kehidupan baru, dan keyakinan baru. Perubahan diarahkan ke masa depan dan menekankan pada sesuatu yang baru; b) Gerakan konservatif, mengarah ke masa lalu, berupaya memperbaiki institusi, hukum, cara hidup, dan keyakinan yang telah mapan di masa lalu tetapi mengalami erosi dan dibuang dalam perjalanan sejarah. Perubahan diarahkan ke belakang dan tekanan diletakkan pada tradisi.

e)       Gerakan yang berdasarkan target perubahan yang diinginkan meliputi (1) Gerakan yang memusatkan perhatian pada perubahan struktur sosial; a) Gerakan sosial politik/nasional, yang berupaya mengubah stratifikasi politik, ekonomi, dan kelas; b) Gerakan sosio kultural, yang ditujukan pada aspek yang kurang terasa dari kehidupan sosial, mengusulkan perubahan keyakinan, nilai, norma, symbol, dan pola hidup sehari-hari. Contoh : gerakan hippies dan punk. (2) Gerakan yang memusatkan perhatian pada perubahan menyeluruh pada perilaku perorangan (Redemptive Social Movements), yaitu : a) Gerakan suci, mistik, dan religious yang berjuang untuk mengubah atau menyelamatkan anggotanya dan menghidupkan kembali semangat keagamaan dan b) Gerakan sekuler yang berupaya untuk memperbaiki moral atau mental anggotanya.

Dengan mengabungkan kriteria target dan kriteria bidang/lingkup perubahan yang diinginkan, David Aberle (1966) dalam Sztompka (2010) mengemukakan klasifikasi rangkap empat gerakan sosial : (1) gerakan transformasi yang bertujuan perubahan total dalam struktur; (2) gerakan reformasi yang bertujuan perubahan sebagian dalam struktur; (3) gerakan penyelamatan yang bertujuan perubahan total individu anggotanya; dan (4) gerakan alternatif yang bertujuan perubahan sebagian kepribadian individu anggotanya.

 

PEMBAHASAN

(INTERNET/CYBERSPACE SEBAGAI ALAT PERUBAHAN DAN GERAKAN SOSIAL

Berdasarkan teori-teori di atas, untuk menjadi gerakan sosial saat ini tidak perlu lagi dengan menggulingkan pemerintahan karena itu sudah dilakukan oleh anak muda di tahun 1998. Gagasan tetap memainkan peranan penting internet dan media sosial hanya alat yang tercatat dalam sejarah. Perubahan itu tidak akan terjadi bila inisiatif di media digital tidak dilanjutkan dengan aksi di dunia nyata. Internet bukan lagi sekedar dunia maya, tetapi mentransformasi berbagai protes, kritik dan kekecewaan tersebut dalam dunia nyata dalam bentuk apatisme terhadap politik, gerakan sosial, hingga tuntutan revolusi.

Perubahan sosial disebabkan oleh berbagai macam agen perubahan (agents of change), tetapi di era modern ini media massa seperti televisi dan internetlah yang sangat menonjol. Bentrokan mahasiswa, kaum wanita menentang praktek aborsi, gerakan mengumpulkan koin bagi Prita, dan kerumunan di alun-alun kota memprotes pemerintah yang menindas. Kesemuanya adalah gerakan sosial yang merupakan perubah paling manjur dalam masyarakat kita. Cara gerakan sosial menyesuaikan diri dengan agen perubahan, dimulai dengan membedakan cara agen mula-mula menggerakkan perubahan sosial. Kriteria pertama, perubahan berasal dari bawah melalui aktivitas yang dilakukan massa rakyat biasa dengan derajat kebersamaan yang berbeda dan perubahan dari atas melalui aktivitas elite yang berkuasa. Kriteria kedua, perubahan yang diinginkan oleh agen, dilaksanakan sebagai realisasi proyek yang direncanakan sebelumnya (nyata) dan perubahan yang muncul sebagai efek samping yang tidak diharapkan dengan tujuan yang sama sekali berlainan atau tersembunyi (Sztompka, 2010).

Menggunakan Internet dan media sosial sebagai platform interaksi, generasi muda Indonesia bisa dengan mudah membentuk kelompok untuk mengusung gagasan perubahan. perubahan sosial yang diusung sudah mengarah pada level of change tingkat global. Demografi penduduk Indonesia yang mayoritas berasal dari kelompok usia di bawah 30 tahun, maka internet menjadi alat potensial untuk menggugah perubahan di tengah masyarakat. Sejarah selalu mencatat bahwa perubahan di Indonesia selalu digagas oleh kaum muda, perubahan arah demokrasi di Indonesia dalam jangka pendek telah berputar, bahwa untuk menjadi gerakan sosial saat ini tidak perlu lagi dengan menggulingkan pemerintahan karena itu sudah dilakukan oleh anak muda di tahun 1998.

Internet akan menjadi agen perubahan sosial di tangan generasi muda Indonesia. Internet dapat menghasilkan sebuah kelompok pendukung dan penekan yang dengan bantuan media massa, mampu menghasilkan perubahan nyata dilakukan sangat cepat. Grup di facebook, misalnya, dapat menarik orang-orang yang memiliki kesamaan pandangan dari berbagai kota di seluruh Indonesia. Setelah grup menjadi besar dan anggotanya aktif berbagi pendapat, kita dapat mengkategorisasi anggota berdasarkan lokasi tempat tinggal. Selanjutnya kita membantu mereka membentuk kelompok-kelompok lokal sendiri yang bergerak dan membuat aksi di lokalitas masing-masing sehingga memobilisasi mereka yang tak terkoneksi ke Internet.

Sepintas kita berpikir tak sulit membuat gerakan sosial di Internet karena orang dapat melakukannya hanya dengan mengklik sambil tiduran sekalipun. Ini memang benar, tapi justru karena begitu mudahnya memulai gerakan di Internet, orang akan dibombardir oleh ajakan untuk bergabung dengan aneka macam gerakan. Akibatnya orang akan memilah-milah grup mana yang paling cocok. Karena orang memilih secara sadar, kita bisa menganggap grup aktivisme yang besar menjadi besar bukan hanya karena mudah bagi orang untuk ikut serta, tapi juga karena memang isu yang diangkat mendapat dukungan luar biasa. Kita juga dapat menggunakan Internet sebagai alat untuk mengorganisasi gerakan sosial nyata di lapangan. Inilah yang dilakukan Barack Obama, baik ketika kampanye maupun sekarang setelah menjadi presiden AS, saat ia melakukan mobilisasi massa untuk mendukung kebijakan-kebijakannya.

Peran media massa terus-menerus melaporkan perkembangan gerakan di facebook. Bagi mereka yang tidak terkoneksi ke Internet, efeknya seperti mendengar ada demonstrasi besar di kota lain, mereka tidak melihat atau merasakan secara langsung tapi menjadi tahu akan keberadaan sebuah kelompok besar yang kesal akan suatu hal. Gerakan facebook adalah sinyal adanya sebuah masalah penting yang membuat banyak orang geram, yang selanjutnya diberitakan media massa. Liputan media massa ini juga dapat menjadi umpan-balik positif untuk gerakan. Orang yang sebelumnya menganggap remeh gerakan facebook berubah menjadi menganggapnya penting karena gerakan tersebut diliput oleh media massa. Reputasi gerakan menjadi naik karena mendapat liputan media massa yang tidak mudah diperoleh. Reputasi naik karena ada sinyal bahwa gerakan berhasil melakukan sesuatu yang sulit, yaitu menarik perhatian media massa.

Beberapa pemerhati kebudayaan mengatakan bahwa kemunculan internet dalam kehidupan manusia adalah bagaikan gempa tektonik berkekuatan 10 Skala Richter yang telah mengguncang peradaban umat manusia. Internet telah menjadikan seluruh sudut dunia terhubung dalam jarring- jaring informasi sehingga meniadakan batas jarak, ruang, dan waktu. Relasi dalam dunia maya adalah relasi sebuah masyarakat tak berbatas (borderless society) yang jauh melintasi batas identitas lokal dan kultural.

Relasi yang diciptakan di dunia maya, selain membentuk masyarakat virtual, juga merupakan sebuah proses pembebasan subjek atas kekangan khas tradisional dalam hal komunikasi dan penyebaran informasi. Internet dianggap sebagai media emansipatoris atau media pembebasan karena ia menyediakan ruang komunikasi dua arah yang bebas dominasi, tidak seperti televisi atau radio misalnya yang hanya menyediakan komunikasi satu arah dan audiens dianggap sebagai subjek yang pasif. Internet dipandang telah menjadi ruang publik yang paling ideal dimana segala wacana dan opini dapat bebas disuarakan. Gagasan ruang publik (public sphere) sebagaimana dikemukakan Jurgen Habermas, yaitu sebagai ruang dimana opini publik bisa dibentuk, menemukan bentuknya yang nyata dalam dunia maya.

Kebebasan berekspresi tersebut dijamin dalam : (1) Pasal 28 F UUD 1945 “Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya, serta berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia”; (2)  Pasal 19 Universal Declaration of Human Rights : “Everyone has the right to freedom of opinion and expression; this right includes freedom to hold opinions  without interference and to seek, receive and impart information and ideas through any media and regardless of frontiers.”

Dengan adanya jaminan kebebasan berekspresi seperti di atas, maka tidak heran jika banyak yang mencoba untuk mengaktualisasi diri dan berlomba-lomba mengeluarkan pendapat serta menyikapi peristiwa-peristiwa sosial dengan caranya masing-masing baik lisan maupun tulisan. Apalagi jika melihat banyaknya jumlah masyarakat Indonesia yang kini mulai menggiati dunia maya. Masyarakat juga menentukan ke arah mana berita itu akan dibawa, termasuk misalnya sebagai alat mengontrol kebijakan pemerintah yang dianggap keliru atau sebagai kontrol terhadap sistem hukum yang dianggap bermasalah. Sebagai ruang publik, internet telah mampu memobilisasi wacana yang menjadi driving force sebuah perubahan yang daya tekannya lebih hebat daripada sekadar mobilisasi massa secara fisik. Bersama dengan masyarakat media lainnya, baik media cetak maupun elektronik, energi besar yang berada dalam masyarakat terbayang inilah yang menjadi kekuatan masyarakat sipil yang mampu menjadi alat kontrol sosial bagi kekuasaan negara, tidak kalah dahsyatnya dibandingkan sebuah unjuk rasa yang melibatkan masyarakat secara fisik.

Menyoroti maraknya situs jejaring sosial dan pengaruhnya pada ketersediaan alternatif alat/media yang bisa digunakan oleh gerakan sosial dalam politik internasional. Dengan mengangkat fenomena-fenomena keberhasilan gerakan-gerakan sosial yang terjadi di berbagai negara termasuk Indonesia, masyarakat bisa merasa menjadi bagian satu sama lain secara mudah hanya dalam hitungan detik melalui fitur join yang disediakan oleh situs jejaring sosial. Kasus Bibit Samad Riyanto dan Candra M Hamzah dalam kriminalisasi KPK 2009, gerakan Un Million Voces Contra Las FARC di Kolombia tahun 2008, Koin untuk Prita yang menghadapi RS Omni International, hingga jatuh dan turunnya rezim Ben Ali di Tunisia serta Hoesni Mubarak di Mesir menjadi bukti bahwa situs jejaring sosial mampu membesarkan skala sebuah gerakan karena kemudahan untuk terbentuk, tersebar secara efektif dan efisien dalam menggalang kesadaran bersama tanpa harus turun ke jalan dan membagi-bagikan selebaran. Keunggulan lain yang disediakan media ini adalah kebebasan berekspresi dan menyoroti segala hal termasuk jika harus ‘berseberangan’ dengan ‘penguasa’ tanpa takut akan ketahuan identitas pribadinya

Dengan meminjam istilah  Marshall McLuhan, dunia saat ini telah telah tereduksi menjadi sebuah desa global (global villageThomas L. Friedman telah memprediksi hal ini di dalam bukunya yang berjudul The World is Flat : a Brief History of The Twenty First (2005). Menurut kolumnis koran The New York Time tersebut, dunia masa depan tidak lagi bulat, akan tetapi berubah datar karena konvergensi. Dunia menyatu di dalam satu ruang yang disebut internet (cyberspace). Konvergensi dan internet (cyberspace) terjadi dengan melihat bagaimana individu berinteraksi dengan orang lain pada tingkat sosial, dan menggunakan berbagai platform media untuk menciptakan pengalaman baru, bentuk-bentuk yang menghubungkan kita secara global di luar dikotomi produsen atau konsumen perubahan dan industri informasi. Dalam hal ini, perubahan (change) menjadi kata kunci wajah baru dunia. Cara terbaik untuk merespons perubahan tentu bukan dengan menghindarinya, akan tetapi menyiapkan diri baik dari segi mental maupun sikap, sehingga kehadiran perubahan tersebut bisa bermanfaat secara positif. dalam konteks lokalitas, menghadapi era internet (cyberspace) ini sistem respons kita harus segera dinavigasi untuk menyesuaikan diri agar tak tergilas perubahan. Tidak lagi ada konservatisme, namun bukan berarti budaya dan identitas lokal kita tanggalkan dan secara latah menerima semua model yang tidak relevan dengan identitas kebangsaan. Akan tetapi, identitas lokal menjadi filter bagi proses seleksi berbagai tawaran yang mengarus dari luar. Semua bisa dikompromikan secara fleksibel. Perubahan tidak lagi didominasi oleh hegemoni kekuasaan. Perubahan bukan lagi tercipta dari turbulensi antara dua kekuatan politik, militer atau ekonomi yang satu sama lain saling berebut pengaruh sebagaimana di abad-abad silam kita saksikan melalu catatan para sejarawan.

Beberapa kasus belakangan ini yang mendapatkan dukungan dari internet lewat Facebook, Blackberry Messanger, Google, Blog dan Twitter, sehingga internet merupakan agen atau alat perubahan dan gerakan sosial masyarakat di Indonesia, antara lain :

(1)     Gerakan 1.000.000 Facebookers Dukung Chandra Hamzah & Bibit Samad Riyanto,               9 Desember 2009, Usman Yasin Full mengumpulkan dukungan bagi dua pimpinan KPK itu.

(2)     Kasus lain yang menggunakan internet dalam upaya memenuhi rasa keadilan dan ternyata berpengaruh pada perubahan sosial adalah kasus yang menimpa Prita Mulyasari, seorang ibu rumah tangga yang mengirimkan keluhannya dengan mengirimkan email kepada 10 (sepuluh) orang temannya. Prita kemudian harus dipidana dengan dasar Pasal 27 ayat 3 UU No. 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

“Putusan Pengadilan Tinggi Banten juga menghukum Prita berdasarkan gugatan perdata yang diajukan pihak Rumah Sakit Omni Internasional, yaitu berupa denda Rp 204 juta. Apa yang dialami Prita mendorong terbentuknya dukungan dalam jejaring sosial facebook, yang lebih dikenal dengan facebookers, dengan membuat gerakan koin untuk Prita.”

(3)     Selain itu, masih ada beberapa kasus lain yang dalam  mendukung tercapainya rasa keadilan, suatu kelompok masyarakat menggunakan situs jejaring sosial facebook, kasus Susno Duaji, ex-Kabareskrim yang mencoba membongkar kebobrokan di tubuh kepolisian.

(4)     Dukung gerakan ASI eksklusif dan Inisiasi Menyusu Dini. Untuk mempersiapkan SDM sehat, cerdas, dan berkualitas. Serta menjamin hak asasi seorang anak terkait dengan tumbuh dan berkembangnya mereka di masa mendatang.

(5)     Gerakan 100.000.000.000 Facebokers Dukung gerakan 1000 sandal untuk membebaskan Aal pelajar SMKN 3 Palu yang terancam dipenjara 5 tahun karena dituduh mencuri sandal milik anggota Brimob, Briptu Ahmad Rusdi.

(6)     Gerakan Perempuan Anti Korupsi dan Diskriminasi (GPAKD); 1) Stop Korupsi;  2) Stop Diskriminasi; 3) Stop Tindakan Kererasan Terhadap Perempuan; dan  4) Lindungi Hak-Hak Asasi Wanita.

(7)     Gerakan “Perempuan Indonesia Mendengar” adalah gerakan dari perempuan, oleh perempuan, dan untuk perempuan. Gerakan ini akan memiliki website dan menggunakan jejaring social media seperti Facebook, Twitter, Youtube, Yahoo Massenger, atau mailing list, yang bersifat user generated: siapapun bisa bertanya dan curhat, siapapun bisa mendengarkan dan memberikan inspirasi serta konsultasi. Dan masih banyak lagi.

Perkembangan teknologi komunikasi yang telah sedemikian modern banyak berpengaruh pada perubahan sosial masyarakat. Rasa keadilan masyarakat yang seharusnya menjadi tujuan hukum (sebagai sarana perubahan sosial) bahkan tidak bisa dilepaskan dari pengaruh perkembangan teknologi ini. Kelompok sosial yang tergabung dalam situs jejaring sosial pun menggunakan teknologi internet sebagai upaya untuk mewujudkan rasa keadilan masyarakat. Cara tersebut banyak digunakan oleh facebookers, beberapa diantaranya karena sebagian anggota masyarakat tidak puas dengan putusan pengadilan yang dianggap menciderai rasa keadilan masyarakat. Untuk itu, hukum yang tidak bisa dipisahkan dari banyak bidang keilmuan, bidang kehidupan dan perkembangan masyarakat terus menerus memperhatikan segala sektor untuk memenuhi rasa keadilan masyarakat.

Hukum seharusnya berkembang mengikuti perkembangan dan perubahan masyarakat. Ilmu hukum diberikan tugas untuk mengawal hukum yang terus mengalami perkembangan di tengah arus perubahan sosial sampai dengan hari ini. Hukum akan terus menerus dihadapkan kepada perubahan-perubahan yang tidak melepaskan diri terhadap medan ilmu yang selalu bergeser. Dari penjelasan tersebut di atas semakin jelas bahwa dengan mengikuti perubahan sosial dan gerakan sosial, maka hukum menjadi sesuatu yang berkualitas serta dapat terus menerus berfungsi sebagai sarana pengendalian sosial dan social engineering dengan tetap memenuhi rasa keadilan masyarakat. Hukum tidak harus merasa tergeser oleh bidang-bidang lain, melainkan terus berhubungan dengan bidang-bidang tersebut. Hukum merupakan suatu produk hubungan-hubungan dan perimbangan-perimbangan kemasyarakatan yang di dalam proses penciptaan dan perkembangannya ditentukan oleh sejumlah aspek hubungan-hubungan dan perimbangan-perimbangan tersebut.

KESIMPULAN

Perubahan sosial merupakan suatu hal yang tak dapat dihindari oleh manusia. Karena kita sadar bahwa dari hari ke hari kondisi dunia ini terus mengalami perkembangan dan perubahan dari berbagai aspek. Sebagai manusia, tentu saja kita harus menyambut baik adanya perubahan ini, karena andaikata kita acuh terhadap perubahan, itu artinya kita tidak siap untuk hidup. Tetapi, perlu kita sadari bahwa perubahan itu ada yang berdampak baik, dan ada pula yang berdampak buruk. Tidak setiap perubahan yang kita hadapi diterima secara langsung, tetapi kita harus memilih perubahan yang mengarah kepada kebaikan kita, dan tidak merugikan.

Posisi pendidikan dalam perubahan sosial merupakan proses penting untuk membantu berlangsungnya transformasi potensi-potensi umum perubahan sehingga menjadi kenyataan sejarah. Pendidikan menjadi salah satu institusi yang terlibat dalam proses tersebut. Pendidikan adalah suatu institusi pengkonservasian yang berupaya menjembatani dan memelihara warisan-warisan budaya masyarakat. Pendidikan berfungsi untuk mengurangi kepincangan yang terjadi dalam masyarakat. Pendidikan harus dipandang sebagai institusi penyiapan anak didik untuk mengenali hidup dan kehidupan itu sendiri, jadi bukan untuk belajar tentang keilmuan dan keterampilan karenanya yang terpenting bukanlah mengembangkan aspek intelektual tetapi lebih pada pengembangna wawasan, minat dan pemahaman terhadap lingkungan sosial budayanya.

Melalui fungsi pendidikan dalam mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, maka akan lahirlah generasi yang mampu melaksanakan prinsip how to change the world (bagaimana mengubah dunia) bukan hanya how to see the world (bagaimana melihat dunia). Dan how to lead the change (bagaimana memimpin perubahan), bukan hanya how to follow the change (bagaimana ikut dalam perubahan). Oleh karena itu, output pendidikan harus diarahkan menjadi agen perubahan (agent of change). Di sinilah peran pendidikan, dalam rangka merekat keutuhan dan kesatuan bangsa menjadi amat sangat menentukan.

Internet akan menjadi agen perubahan sosial dan gerakan sosial di tangan generasi muda Indonesia. Di era ini,  zona baru ketika dunia telah terkoneksi oleh kemajuan teknologi internet, ketika tembok-tembok dan jendela rumah kita runtuh dan disatukan oleh gelombang konvergensi dalam satu ruang internet (cyberspace), jaringan sosial media seperti Facebook, Google, Blackberry Messanger, Blog dan Twitter, hadir sebagai kebutuhan baru. Menjadi menu wajib, bahkan sesaat kita membuka mata di subuh hari.

Sebagai sebuah komunitas maya, meski situs jejaring sosial memiliki kelebihan dan bisa menjadi alternatif bagi gerakan sosial namun situs jejaring sosial juga memiliki berbagai kelemahan. Fleksibilitas ikatan yang disediakannya membuat sulit menjaga komitmen orang-orang yang join dalam komunitas tersebut. Selain itu keandalan sebuah akun perlu diperhatikan jika ingin menjadikan jejaring sosial sebagai wahana untuk menghimpun kesadaran bersama dalam gerakan sosial. Yang perlu diperhatikan adalah terlalu bebasnya komunitas dunia maya untuk menyuarakan aspirasinya melalui media ini membuat sulit menjaga validitas informasi yang berkembang dalam komunitas tersebut sehingga alih-alih membangun kesadaran bersama justru konflik yang didapat sebagai akibat simpang siurnya informasi yang ada.

Situs jejaring sosial mampu memberikan hak yang sama bagi tiap orang untuk berkontribusi dalam mengemukakan dan membangun ide karena keterbukaan jalur komunikasi sehingga diskusi mampu dilakukan dengan keterlibatan semua anggota. Media ini menjadi komunitas virtual yang tidak terbatasi oleh apapun. Meskipun seseorang memiliki perbedaan ideologi, status sosial ekonomi, pendidikan, tempat dan waktu tetap bisa diikat dalam sebuah komunitas virtual ketika mereka memiliki kesamaan sikap dan posisi atas sebuah isu.

Hadirnya media sosial yang dijembatani internet (cyberspace) telah membentuk perilaku tersendiri dalam masyarakat. Facebook, Blackberry Messanger, Google, Blog dan Twitter, dalam waktu relatif singkat menjadi ruang raksasa yang menampung segala macam informasi, protes dan kritik hingga tuntutan revolusi dari masyarakat. Internet bukan lagi sekedar dunia maya, tetapi mentransformasi berbagai protes, kritik dan kekecewaan tersebut ke dalam dunia nyata. Bisa dalam bentuk apatisme terhadap politik, gerakan sosial, hingga tuntutan revolusi.

Dengan demikian, internet tidak hanya sekadar merevolusi cara manusia berelasi dan berkomunikasi yang menembus jarak, ruang, dan waktu, tetapi juga telah menciptakan satu bentuk masyarakat baru yaitu masyarakat virtual atau dengan istilah Benedict Anderson adalah komunitas imajiner yang dipersatukan oleh kesamaan interest, ideologi dan bahasa virtual melalui gerakan sosial menuju ke arah perubahan yang lebih baik.

 

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 1996. http://irwanpermanakusuma.blogspot.com/2010/11/jurnal-ii.html

Giddens, Anthony. 1989. Sociology. Crambridge, UK. Polity Press.

________. 2010. Teori Strukturasi, Dasar-Dasar Pembentukan Struktur Sosial Masyarakat, Cetakan I. Pustaka Pelajar. Yogyakarta.

Hendropuspito. 1989. Sosiologi Sistematik. Kanisius. Yogyakarta.

Lauer, H Robert. 2003. Perspektif Tentang Perubahan Sosial, Edisi Kedua. Rineka Cipta. Jakarta.

Soekanto, Soerjono. 1990. Sosiologi Suatu Pengantar, Edisi Keempat. Rajawali Pers. Jakarta.

Soemardjan, Selo. 1962. Sosial Changes in Yogyakarta. Cornell UniversityPress, Ithaca. New York.

Sztompka, Piotr. 2010. Sosiologi Perubahan Sosial, Cetakan kelima. Prenada Media Group. Jakarta.

Taruna, Tukiman. 2011. Pengantar Community Develompent. Disampaikan dalam kuliah pengembangan masyarakat program pasca sarjana UNS. Surakarta.

http://cecepabdulaziz.blogspot.com/2011/07/teori-perubahan-sosial-dan-pembangunan.html

http://id.wikipedia.org/wiki/Gerakan_sosial

http://makassar.tribunnews.com/2011/11/29/cyberspace-dan-gerakan-sosial-politik

 oleh : MJ

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: