Suku Togutil

  1. I.   PENDAHULUAN
  1. A.    Latar Belakang

Masyarakat adat dalam tradisi modern dikenal dengan istilah “indigenous society”,  yang secara harafiah berarti seseorang yang dainggap memiliki keaslian kehidupan. Adat dapat diartikan “pribumi” digunakan semata-mata sebagai suatu kata sifat, orang-orang yang berasal dari suatu kultur atau kelompok menghormati asal usul mereka dengan perasaan, pemaknaan dan pengertian yang mendalam atas suatu wilayah yang mereka tempati. Masyarakat adat memiliki karakter yang membatasi diri dan mengidentikan diri mereka sebagai sebuah kelompok kecil yang memiliki otoritas dalam menempati sebuah wilayah tertentu berdasarkan ukuran-ukuran yang disepakati secara konvensional (Aman, 2008).

Begitupun halnya dengan masyarakat ada Suku Togutil yang ada di Halmahera Timur. Bila mendengar kata “TOGUTIL”, maka bayangan yang muncul dalam pikiran semua orang di Ternate dan Maluku Utara pasti akan tertuju pada komunitas suku terasing yang hidup secara nomaden di pedalaman pulau Halmahera. Tapi mungkin lain halnya dengan masyarakat di luar provinsi muda ini, misalnya orang-orang di Sulawesi, Jawa, Kalimantan, Sumatera dsb, nama suku Togutil mungkin baru kali ini didengarnya. Bagi orang Ternate, kata “Togutil” sebagai sebuah istilah, itu identik dengan makna kata “primitif”, “keterbelakangan”, “kebodohan” “ketertinggalan” serta masih banyak lagi konotasi-konotasi yang bermakna serupa lainnya (Latif, 2009).

Dalam keseharian kehidupan masyarakat di Maluku Utara yang hingga sekarang ini juga telah memasuki era digital sebagaimana orang-orang di pulau Jawa, namun ternyata masih ada saudara-saudaranya yang ada di pedalaman pulau Halmahera yang hidupnya masih primitif dan terbelakang serta jauh dari sentuhan modernisasi. Padahal negara ini sudah merdeka lebih dari 60 tahun yang lalu.

Suku Togutil adalah suku asli yang terasing di negerinya sendiri. Hal seperti ini juga pernah dikemukakan oleh Pengamat Budaya Djoko Su’ud Sukahar dalam tulisannya; Suku Asing & Terasing, detikNews, tanggal 21 Agustus 2008 yang menyentil bahwa; “Enampuluh tiga tahun sudah kita merdeka. Kemerdekaan yang panjang itu masih menyisakan penyesalan. Tak hanya karena taraf hidup rakyat yang tak kunjung membaik, tapi juga masih banyaknya saudara kita yang hidup terasing. Mereka asing bagi kita, dan kita asing bagi mereka, seperti orang-orang Suku Togutil yang hidup di pedalaman pulau Halmahera”. Walaupun mereka masih primitif karena pola hidup secara nomaden tanpa merobah dan merusak alam, namun keberadaan mereka seperti itu telah memberikan pelajaran berharga kepada kita semua dalam hal melestarikan hutan. Seakan-akan mereka berpesan; janganlah sekali-kali merusak alam (Latif, 2009).

Mengingat semua yang berkaitan dengan keberadaan suku di dunia ini adalah hal yang sangat menarik untuk dikaji lebih jauh, maka tulisan ini berfokus pada suku Togutil, salah satu suku pedalaman yang dimiliki Indonesia dengan beragam keunikannya yang saat ini telah sedikit pudar terkikis oleh perkembangan dan perubahan.

  1. B.     Tujuan

Tujuan yang ingin diperoleh dalam tulisan ini adalah  ingin mengetahui bagaimana suku Togutil memelihara kearifan lokalnya, bagaimana struktur sosial, adat istiadat, budaya, agama, bahasa dan yang berhubungan dengan masyarakat Suku Togutil.

  1. II.  PEMBAHASAN
  1. A.    Letak Geografis Suku Togutil

Togutil adalah suku yang hidup di pedalaman hutan Kabupaten Halmahera Timur, Maluku Utara. Togutil sendiri memiliki arti “suku yang hidup di hutan” atau dalam bahasa Halmahera pongana mo nyawa. Cara hidup Togutil adalah dengan berpindah-pindah di dalam hutan Wasile, yang terletak di sisi timur Ternate.  Jarak terdekat bisa ditempuh melalui Buli, sebuah kota kecamatan di Halmahera Timur. Dari Kota Buli perjalanan menempuh sejauh 40 kilometer menuju hutan Wasile.

Suku Togutil terkenal dengan sebutan nomaden, dan karena itu kehidupan mereka masih sangat tergantung pada keberadaan hutan-hutan asli, maka dapat dikatakan hutan adalah alam yang paling tepat untuk pemukiman mereka. Mereka bermukim secara berkelompok di sekitar sungai. Komunitas Togutil yang bermukim di sekitar Sungai Dodaga sekitar 42 rumah tangga. Rumah-rumah mereka terbuat dari kayu, bambu dan beratap daun palem sejenis Livistonia sp. Umumnya rumah mereka tidak berdinding dan berlantai papan panggung.

Di lain tempat, suku Togutil juga ditemui menetap di daerah yang berada  di dalam kawasan usulan Taman Nasional Aketajawe-Lolobata. Suku Togutil dan Suku Tobelo juga ditemukan di hutan nomaden, misalnya hutan Totodoku, Tukur-Tukur, Lolobata, Kobekulo dan Buli (Anonim, 2011).

  1. B.     Asal-Usul Suku Togutil

Menurut Sosebeko, (2010), Berawal dari maksud mencari rempah-rempah, tanah Maluku yang terkenal akan cengkeh dan pala menjadi incaran bangsa Eropa yang lalu berlomba-lomba datang untuk menguasainya. Pada tahun 1546, Portugis mulai menyisir setiap pantai dan pulau yang ada di bumi Maluku Utara. Teluk Galela tidak ketinggalan. Tahun 1570 Sultan Khairun diracuni oleh Portugis saat sedang melangsungkan perundingan. Putranya, Sultan Babullah bersumpah untuk mengusir Portugis keluar dari benteng-benteng mereka dan secara gencar mengincar dan menggempur setiap kubu pertahanan portugis termasuk yang terdapat di Mamuya yang tidak tercatat dalam sejarah.

Kapal Portugis tersebut masuk ke hulu Tiabo untuk menghindari pengejaran pasukan Korakora Sultan Ternate. Sayangnya mereka bernasib sial karena meskipun berhasil meluputkan diri namun pasukan Alifuru di pedalaman Galela telah menanti. Pertempuran pun tak dapat dielakkan lagi. Sengatan lebah-lebah ini ternyata menimbulkan banyak korban di pihak Portugis. Upaya penyelamatan dilakukan dengan api dan belerang serta serangan balik dengan tembakan yang membabibuta, membuat pasukan Alifuru mundur dan menghindar dari peluru-peluru nyasar. Mundurnya pasukan Alifuru digunakan oleh Portugis untuk segera meninggalkan kapal dan daerah Dokulamo menuju arah selatan. Mereka bermukim di daerah Gunung Hum dan kemudian menamakan daerah tersebut Rum yang mengisyaratkan bahwa daerah itu adalah tempat tinggal orang-orang yang berasal dari Rumawi.

Orang-orang Portugis di daerah Hum/Rum tidak dapat tinggal dengan tenang dikarenakan orang-orang Galela sering mengusik ketentraman mereka. Mereka pun kemudian memilih hijrah ke daerah Tobelo dengan menepati bebukitan Karianga arah selatan daerah Wangongira, Kusuri, lembah Kao, batang sungai kali Jodo menuju arah Tetewang. Perpindahan ini mempertemukan mereka dengan sesama bangsanya yang bernasib serupa di sekitar Pasir Putih yang kapalnya karam.

Sebagian dari mereka menetap dan menyatu dengan masyarakat setempat. Untuk menghilangkan jejak sebagai orang Portugis mereka pun belajar bahasa Tobelo dan berusaha keras menghilangkan aksen bahasanya. Mereka kemudian hidup bergaul dengan orang Tobelo dan Kao yang pada akhinya membuat kebanyakan orang Togutil berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Tobelo Boeng dan Modole. Upaya-upaya ini dilakukan untuk menghindari kejaran pasukan Ternate dan Alifuru terhadap sisa-sisa orang Portugis di Maluku Utara yang lari ke hutan.

Pada perkembangannya, orang-orang Portugis ini kemudian hidup dengan cara berpindah-pindah ke daerah yang mereka anggap lebih aman sambil tetap berkembang biak. Populasi mereka diketahui menempati hutan di selatan Halmahera Utara sampai ke hutan Wasilei di Halmahera Timur. Mereka senang tinggal ditepian sungai. Rumah mereka terbuat dari kayu bulat beratapkan daun rumbia atau daun woka tanpa dinding. Pola makan mereka adalah dengan menyantap makanan mentah atau dimasak dengan cara dibakar dengan bambu. Air kebanyakan mereka minum langsung dari sungai.

Perawakan suku Togutil yang belum kawin campur adalah seperti orang Portugis pada umumnya. Mereka berperawakan tinggi besar, berkulit putih dan berhidung mancung. Anak-anak perempuan mereka cantik-cantik dengan bola mata yang berwarna bening-keabuan. Pola hidup mereka masih sangat bergantung pada hasil alam. Makan dari buah-buahan, umbi-umbian, pucuk-pucuk daun muda dan dari hasil buruan binatang hutan dan ikan sungai.

  1. C.    Mata Pencaharian

Ketergantungan mereka pada alam membuat mereka memiliki pola hidup nomaden. Setelah persediaan umbi-umbian dan buah-buahan serta hewan menjadi berkurang mereka akan berpindah ke daerah baru. Demikianlah sehingga mereka kemudian dikenal sebagai pemilik hutan Halmahera mengingat merekalah yang pertama menjelajahi dan menempati hutan Halmahera. Bagi masyarakat Togutil yang masih primitif, tidak mengenal sistem bercocok tanam dan menetap. Sehingga salah satu mata pencaharian andalan mereka adalah berburu, menangkap ikan, mengumpulkan hasil hutan dan menggunakan sagu sebagai sumber karbohidratnya.

Pola hidup suku Togutil yang sudah berbaur dengan masyarakat dapat dilihat dari kemampuan mereka dalam bercocok tanam umbi-umbian dan buah-buahan serta tanaman tahunan sehingga hidupnya tidak lagi berpindah-pindah tempat. Mereka juga sudah dapat menggunakan alat-alat pertanian dan berbusana dengan baik.

Syaiful Majid, seorang peneliti kehidupan Suku Togutil dari Universitas Muhammadiyah Maluku Utara dan melakukan riset selama hampir dua tahun mendalami aspek budaya dan sosiologis dari suku ini. Menurut Syaiful, bagi suku ini hutan adalah sumber makanan. “Sehingga, dalam pemaknaan Suku Togutil, hutan adalah rumah mereka,” jelas Syaiful. Karena itu pula, menjaga hutan dianggap sama dengan menjaga rumah sendiri.

Saat ini sebagian merupakan petani (Togutil kategori Menetap) dan sebagian lagi masih tergantung pada hasil hutan meskipun telah mengenal sistim bercocok tanam (Togutil kategori Menetap sementara). Mata pencaharian tambahan adalah berburu binatang damar  maupun telur maleo untuk dijual atau ditukarkan dengan penduduk di kampung pada saat hari pasar.

Tingkat pendapatan penduduk berdasarkan hasil penelitian dilapangan sangat bervariasi yaitu antara Rp. 50.000 sampai dengan Rp. 750.000,- per bulan. Sumber penghasilan umumnya berasal penjualan hasil buruan atau hasil yang diperoleh dari hutan maupun dari hasil kebun yang dikelola disekitar satuan pemukiman atau satuan rumahnya. Pendapatan diatas 500.000 merupakan pendapatan masyarakat Togutil Menetap yang memiliki profesi sebagai petani kopra maupun usaha sampingan lainnya seperti pedagang dan tukang ojek (Kartini, et. al. 2006).

  1. D.    Agama/Kepercayaan

Berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara selama penelitian orang Togutil atau masyarakat Togutil saat ini yang tinggal di satuan pemukiman desa Dodaga, Tukur-Tukur, Toboino (Totodoku) dan Tutuling jaya dan Foli adalah sebagian besar merupakan menganut agama Kristen Protestan. Hanya 3 Kepala Keluarga saja yang memeluk agama Islam. Kepercayaan yang dianut oleh masyarakat Togutil saat ini merupakan perpindahan dari sistim kepercayaan asli yang mulai ditinggalkan pada akhir tahun 1970an ketika masuknya penyebaran agama Kristen di daerah Lolobata sebagai wilayah dimana orang Togutil penghuni hutan Tututing awalnya tinggal. Pengenalan agama ini lebih meningkat lagi sejak adanya proyek pemukiman kembali masyarakat terasing pada tahun 1970.

Menurut informasi dari beberapa informan bahwa masyarakat Togutil yang masih menganut sistim kepercayaan asli atau belum memiliki agama tertentu adalah mereka yang masih tinggal jauh di dalam hutan yang sama sekali belum mendapat pembinaan dari pemerintah maupun berhubungan dengan dunia luar. Kesatuan pemukimannya masih sangat terisolir. Kelompok ini oleh Huliselan 1980 dikelompok sebagai Togutil biri-biri atau dalam Keputusan Presiden Nomor 111 tahun 1999 termasuk dalam kategori KAT Kategori I.

Sistim Kepercayaan atau Keyakinan asli orang Togutil menurut hasil penelitian Martodirdjo (1996) terpusat pada ruh-ruh leluhur yang menempati seluruh alam lingkungan. Orang Togutil percaya akan adanya kekuatan dan kekuasaan tertinggi yaitu Jou Ma Dutu, pemilik alam semesta atau biasanya disebut juga o gikiri-moi yaitu jiwa atau nyawa. Walaupun demikian orang Togutil tidak pernah melakukan upacara-upacara pemujaan. Mereka tidak pernah menyebut istilah atau nama khusus untuk sistim relegi aslinya. Kepercayaan asli orang Togutil yang terpusat pada penghormatan dan pemujaan pada leluhur tersebut digambarkan dalam berbagai makhluk halus yang dalam pandangan orang Togutil menempati seluruh lingkungan hidup sekitar baik dalam bentuk benda yang bersifat alami (nature) maupun benda hasil karya cipta manusia (culture) yang dipercaya memiliki yang mempengaruhi keberhasilan dan kegagalan usaha ataupun aktivitas dalam kehidupan sehari-hari.

  1. E.     Karakteristik Sosial, Ekonomi dan Budaya

Ritual Suku Togutil. Pada masyarakat Togutil, upacara yang sering dilakukan tidak meriah seperti layaknya upacara adat yang sering dilakukan masyarakat lainnya. Bagi mereka, yang utama adalah makna dari kegiatan tersebut. Ritual adat yang lazim dilakukan adalah ketika ada salah satu dari keluarga Suku Togutil yang meninggal dunia, Segala material tersebut ditinggalkan begitu saja. Hari itu salah satu anggota keluarga mereka ada yang meninggal. Menurut kepercayaan orang Togutil, jika ada anggota keluarga yang meninggal, tempat yang mereka huni selama ini harus ditinggalkan. Mereka harus mencari lokasi lain dan membangun hunian baru. “Tempat itu sudah tidak baik lagi dijadikan tempat bermukim mereka. Jadi, kalau ada yang meninggal, mereka harus berpindah tempat,” ujar Syafruddin Abdurrahman, antropolog dari Universitas Khairun, Ternate.

Tak ada yang dibawa selain perlengkapan dapur. Sebelum beranjak, bangunan rumah tanpa jendela mereka sengaja dirobohkan. Dengan kondisi demikian, orang akan tahu jika di lokasi itu ada anggota kelompok yang meninggal. Secara bersama-sama, sekelompok kecil itu akan pindah dan membangun kembali hunian baru. Mereka kembali mencari bambu, kayu dan daun-daun rumbia di sekitar hutan untuk dijadikan rumah. Namun, perpindahan mereka tak jauh dari lokasi semula. “Mereka memang nomaden, tapi areanya tetap di wilayahnya,” ujar Syafruddin.

Satu lagi yang unik dari Suku Togutil adalah sistem perkawinan mereka. Adalah sah bagi seorang untuk menikahi atau dinikahi orangtuanya, dengan kondisi bukan orang tua kandung. Misalnya anak laki-laki ingin menikahi ibu tirinya, dengan seizin ayahnya, ia bisa melakukannya. Hal itu umum dilakukan di suku ini. Selain itu, poligami juga dibolehkan di suku ini (Aminah, 2011)

Pola Pemukiman. Kesatuan rumah (o tau moi) adalah bentuk pemukiman atau tempat tinggal yang terkecil bagi masyarakat Togutil sebagai tempat tinggal, pusat aktivitas individunya sebagai warga masyarakat. Tiap o tau moi dihuni oleh satu keluarga inti yang tandai dengan sebuah atau beberapa bangunan gubuk yang merupakan milik dari keluarga inti tersebut.

Struktur fisik rumah orang Togutil dibagi atas tipe sederhana, sedang dan lengkap. Tipe paling sederhana hanya terdiri dari satu bangunan (gubuk / o tau ma amoko) dengan ukuran 1,5 x 2 m yang terbuka semua sisinya. Didalam gubuk tersebut terdapat balai-balai (o dangiri) sebagai tempat menerima tamu sekaligus tempat tidur. Dapur hanya berupa sebuah tungku api (o rikana) yang pada malam hari berfungsi sebagai perapian untuk pengusir nyamuk dan penghangat badan. Tipe sedang biasanya ditandai dengan penambahan 1 gubuk untuk dapur diluar gubuk utama. Sedangkan Tipe lengkap ditandai dengan penambahan beberapa gubuk biasa untuk tempat tidur anak-anak yang telah dewasa tapi belum berkeluarga atau gubuk untuk tamu.

Martodirjo (1991) mengemukakan bahwa secara umum masyarakat Togutil mengenal tiga tingkatan bentuk atau konsep tempat tinggal atau pemukiman, yang masing-masing memiliki arti dan fungsi saling mengisi dan melengkapi dalam kehidupan mereka yaitu kesatuan rumah (o tau), kesatuan Pemukiman(o gorere) dan kesatuan hutan (o hogana). Beberapa kesatuan rumah akan membentuk satu kesatuan pemukiman (o gorere moi) dan secara keseluruhan mereka menyatakan dirinya satu kesatuan hutan.

Umumnya mereka membangun tempat tinggalnya atau pemukimannya di tepi di tepi sungai di dalam kawasan hutan atau dalam jarak 20 – 100 m dari tepi sungai. Kesatuan rumah atau kesatuan pemukiman tersebut biasanya dibangun dalam jarak yang berjauhan yaitu berkisar 20 sampai 500 atau lebih. Menurut Martodirdjo (2001) Jarak tersebut bisa lebih dari 500 m jarak terjauh antara 1- 6 km, namun berdasarkan hasil pengamatan selama penelitian diperoleh data jarak antara satuan pemukiman ternyata ada yang lebih dari 6 km yaitu antara Satuan pemukiman Totodoku dan Tukur-Tukur. Pola Pemukiman tradisional ini dibangun melingkar yang berdekatan atau berhadapan namun adapula yang menyebar dengan jarak antar rumah 10-50 m dalam satu satuan pemukiman.

Pola Kepemilikan Lahan. Bagi suku Togutil pola kepemilikan lahan dibagi atas : milik sendiri (ahiraki) dan lahan milik bersama (miaraki). Lahan milik sendiri selain merupakan warisan turun temurun dari keluarga, ada juga merupakan lahan yang diperoleh dari pemerintah melalui program pemukiman kembali yang dilakukan pada tahun 1980. Umumnya masyarakat Togutil memiliki lahan atau kebun milik sendiri tidak lebih dari 2 Ha. Dari hasil wawancara ternyata rata-rata petani yang memiliki lahan atau kebun tetap dengan luas 0,25 – 1,25 Ha. Bagi masyarakat Togutil tipe menetap sementara umumnya memiliki lahan atau kebun yang kurang dari 0,25 ha. Lahan yang menjadi milik sendiri dapat diperjual belikan sesuai kebutuhan, namun bagi lahan milik bersama tidak boleh di perjualbelikan.

Lahan Milik bersama dalam masyarakat Togutil biasanya berupa areal hutan atau suatu kawasan dimana terdapat sumber mata pencaharian berupa bahan makanan pokok atau areal perburuan yang biasanya sebut ”mialolingiri”. Bagi masyarakat Togutil suatu areal hutan atau lahan yang telah dijadikan sebagai wilayah (mialolingiri) yaitu adalah milik bersama yang harus dimanfaatkan dan dikelola secara bersama. Lahan milik bersama dapat pula berupa suatu lahan yang ditetapkan secara bersama-sama untuk dikelola satu jenis tanaman atau beberapa jenis tanaman yang telah disepakati bersama-sama yang disebut kebun jemaat, ataupun kebun/lahan masyarakat.

Sistem Kekerabatan. Orang-orang Togutil hidup berkelompok yang anggotanya masih keluarga luas. Mereka masih merupakan kerabat yang terdiri dari orang tua, anak, keponakan, dan saudara-saudara. Syafruddin yang tengah menempuh program magister Antropologi di Universitas Gajah Mada mengatakan, suku Togutil menganut paham patriarki. Karenanya, jika dia lelaki dan sudah menikah, akan menjadi bagian dari kelompok tersebut. Jika perempuan dan sudah menikah, biasanya akan ikut dengan kelompok suaminya.

Namun tak jarang, menurutnya, hubungan pernikahan bisa terjadi antara anggota keluarga luas yang ada dalam satu kelompok itu. Pada kelompok kecil ini, biasanya paling banyak terdiri dari 10 kepala keluarga (KK). Tapi, tak seluruhnya membangun rumah. “Satu rumah dihuni minimal dua KK. Bahkan bisa tiga sampai empat KK. Sehingga satu kelompok hanya membangun sekitar tiga rumah saja,” ujar Syafruddin.

Bangunan rumah mereka, adalah rumah panggung setinggi satu meter dari tanah berukuran sekitar 3×4 meter. Rumah yang mereka bangun tanpa sekat juga tak memiliki dinding. Di bawah rumah biasanya dibuat perapian yang berfungsi sebagai penghangat kala hawa dingin menyapa. Di rumah itulah mereka berkumpul, makan, istirahat, dan bercengkerama dengan para kerabatnya.

Jalinan kekerabatan suku Togutil kerap diwujudkan dalam satu upacara makan bersama yang disebut makkudotaka. Upacara dilakukan antara satu kelompok dan kelompok yang lain. Upacara ini dilakukan tanpa ikatan waktu, bukan sebulan sekali ataukah setahun sekali. Biasanya, jika ada kelompok A bertemu dengan kelompok B, ketika kelompok B mengatakan dia suka makan telur ayam hutan, daging rusa, atau berbagai makanan enak lainnya menurut mereka, maka kelompok A tidak bisa menolak. Mereka harus menerima untuk menyiapkan segala makanan yang disebutkan tadi.

Kelompok A akan minta diberi waktu, misalnya sebulan atau dua bulan untuk menyiapkan bahan makanan yang diminta. Jika dalam tempo yang diminta, makanan belum juga terkumpul, mereka akan memperpanjang waktu lagi. “Pokoknya sampai makanan itu tersedia, baru dilaksanakan,” terang Syafruddin. Saat itulah dua kelompok akan bertemu dan menikmati kebersamaan ala makkudotaka. Inilah sebuah upacara kebersamaan dari para penghuni rimba Halmahera.

  1. F.     Struktur dan Ogranisasi Sosial

Orang-orang Togutil tak mengenal hierarki kepemimpinan. Pada kelompok-kelompoknya, mereka hanya menjadikan seseorang jadi panutan karena kepiawaian dan kecakapan mereka dalam berburu dan mengobati orang sakit. Suku Togutil mengenal ritual pengobatan yang dikenal dengan istilah maidu-idu yang berarti tidur. Dalam ritual ini, seorang perempuan dijadikan medium untuk mengetahui penyakit dan obat untuk si sakit. Caranya, perempuan tadi berbaring di atas tempat tidur, lalu ditutupi kain mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki. Dalam posisi berbaring dan tertutup kain itu, tangan si perempuan akan mengetuk-ngetuk tempat tidur dengan irama tertentu.

Irama ketukan tersebut lama kelamaan membuat si perempuan tadi kerasukan roh halus. “Dari situ dia bisa menyebutkan apa sebab seseorang itu sakit dan bagaimana cara pengobatannya,” kata Syafruddin. Masyarakat suku yang hidup di dalam hutan ini masih menggunakan pakaian seadanya. Mereka hanya menyulap kulit kayu tertentu menjadi kain dan dijadikan cawat. Konflik antara kelompok pun jarang terjadi. Kalaupun ada,bukan karena alasan perebutan lahan untuk kekuasaan, karena suku Togutil tidak mengenal istilah kepala suku.

Jika terjadi konflik, pemicunya terkadang karena penculikan istri atau anak perempuan dari kelompok satu terhadap kelompok lainnya. Di beberapa wilayah yang dihuni orang-orang Togutil, hal semacam ini masih kerap terjadi. Karena itu, untuk menghindari penculikan terjadi, saat mereka pergi berburu, tak jarang seluruh keluarga mereka diajak serta, walaupun aktivitas perburuan hanya dilakukan kaum lelaki.

Konflik antarkelompok jarang terjadi, karena sesungguhnya dari kelompok-kelompok itu masih memiliki pertalian kekerabatan. Penghuni rimba di belahan utara dan selatan Halmahera ini kerap masih memiliki marga yang sama, pertanda mereka masih satu kerabat. “Kerja mereka setiap hari masuk ke hutan melintasi gunung-gunung. Itu sudah biasa. Jadi, jangan heran kalau hari ini mungkin menemukan mereka di Halmahera Timur, bulan depan kita temukan mereka di Halmahera Tengah,” ujar Syafruddin.

  1. G.    Pemahaman Masyarakat Togutil Tentang Tumbuhan

Dalam Pandangan masyarakat Togutil setiap jenis tumbuhan yang ada di sekitar kehidupan manusia memiliki jiwa dan perasaan seperti halnya manusia. Oleh karena itu maka dalam pemanfaatannya harus dilakukan dengan baik. Misalnya bila seseorang akan mengambil atau memanfaatkan sebagian dari suatu tanaman untuk tujuan pengobatan maka dia harus melakukan ritual kecil berupa pemberian makanan dan disertai dengan pengucapan niat sebagai penghargaan sekaligus permintaan kepada leluhur penghuni tanaman tersebut. Pengambilan atau pemanfaatan tumbuhan tidak dapat dilakukan oleh sembarangan orang. Pengambilan suatu jenis tanaman terutama obat-obatan hanya dilakukan oleh orang-orang tertentu yang memiliki pengetahuan yang baik tentang manfaat dari suatu jenis tumbuhan misalnya seorang gomatere (dukun) secara langsung. Di dalam pemanfatan bagian tanamanpun hanya diambil sesuai kebutuhan dan tidak diperkenankan berlebih-lebihan (Kartini, 2006).

Dalam pandangan masyarakat Togutil bahwa tumbuh-tumbuhan pada dasarnya perlu dan ingin diperhatikan atau diperlakukan secara baik. Karena diyakini bahwa perlakuan yang baik terhadap tumbuhan yang dimanfaatkan maka setiap tumbuhan yang dipelihara akan memberikan keuntungan dan kenyamanan bagi manusia. Merusak atau memanfaatkan secra berlebihan berarti akan merusak sumber kehidupan yang dimiliki sehingga akan menyulitkan kehidupan ngofa ngofaka (anak cucu).

Karena hutan adalah rumah bagi orang-orang suku Togutil, maka pohon dianggap sebagai sumber kelahiran generasi baru. Di samping pelekatan unsur magis tersebut, pohon juga bisa menjadi simbol kelahiran (reproduksi genetika). Pohon Sebagai Simbol Kelahiran, Mempertimbangkan Pemahaman Lokal tentang Pohon dalam Upaya Pemulihan Kerusakan Hutan, yang ditulis oleh Anthon Ngarbingan dalam http://www.kabarindonesia.com tanggal 31 Oktober 2008, mengemukakan bahwa ada beberapa kelompok masyarakat seperti suku Togutil di daerah Baborino, Buli, Halmahera Timur – Provinsi Maluku Utara, yang menggunakan pohon sebagai lambang kelahiran seorang bayi di tengah-tengah keluarga. Ketika seorang bayi lahir, maka salah satu anggota keluarga harus menanam satu pohon, yang menyimbolkan hadirnya generasi baru di tengah-tengah keluarga.

Kearifan Masyarakat Togutil dalam Konservasi Plasma Nutfah

Larangan Merusak Kawasan Sagu Raja. Sebagaimana masyarakat di Maluku pada umumnya, masyarakat Togutil juga memiliki kearifan dalam pengelolaan plasma nutfah. Masyarakat telah memanfaatkan berbagai tanaman rempah dan obat dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-harinya antara lain sebagai obat tradisional, bumbu masak, penyegar, penyedap atau penambah sumber pendapatannya. Peran masyarakat dalam pelestarian plasma nutfah biasanya tampak dalam aktifitas kehidupan sosial budayanya yaitu dengan memadukan antara kewajiban untuk pemenuhan kebutuhan dan melestarikan sumberdaya alam dan lingkungannya secara arif melalui aturan adat atau budaya.

Kearifan masyarakat Togutil dalam upaya pelestarian plasma nutfah tercermin dalam kebiasaan secara turun temurun yang dilakukan oleh leluhur sebelumnya baik berupa pantangan atau larangan. Beberapa sistem yang memiliki nilai-nilai keraifan ini adalah :

  1. 1.      Larangan (bohono) merusak Kawasan Sagu Raja

Berdasarkan hasil wawancara terhadap responden dan beberapa informan bahwa dahulu setiap orang yang masuk dalam suatu areal dilarang memasuki dan merusak Rawa Sagu Kali Meja dalam jangka waktu yang telah ditentukan. Hal ini karena kawasan tersebut merupakan areal Mialolingiri (kawasan sumber pencaharian bahan makan pokok) orang Togutil yang harus dapat dimanfaatkan secara bersama-sama dan dijaga kelestariaanya. Setiap orang yang tertangkap melakukan pengrusakan maka dia akan dikenakan sanksi sesuai ketentuan yang berlaku yaitu berupa penyitaan semua peralatan memukul Sagu ataupun denda berupa uang yang telah disepakati jumlahnya.

Bagi orang yang akan memasuki kawasan meskipun tidak melakukan aktivitas apaun di dalamnya tersebut harus mendapat izin dari kepala suku (o dimono). Namun saat ini hal tersebut tidak berlaku lagi. Meskipun tidak lagi diberlakukan secara ketat namun masyarakat umumnya menyadari bahwa merusak kawasan tersebut merupakan pengrusakan terhadap sumberdaya alam sekaligus penghianatan terhadap leluhur sebagai pemilik sumberdaya. Tidak diperoleh keterangan yang lebih jelas tentang istilah yang digunakan untuk menggambarkan larangan ini.

Umumnya orang lebih mengenal sebagai boboso atau dalam bahasa Togutil Larangan tersebut disebut bohono. Istilah Bohono sendiri artinya sangat luas karena larangan ini juga berlaku untuk pekerjaan, ataupun perkawinan dengan kekerabatan dekat. Larangan Merusak Kawasan sagu raja dalam bahasa Togutil di sebut : Bohono nasrusaha dumule opeda makoano atau Mihigu maya ua mangi opeda idimono (kalimat dalam terjemahan bebas berarti ”dilarang untuk merusak kawasan sagu raja”atau dilarang merusak tanaman sagu tanpa izin dari orang yang dituakan/ kepala suku)

Meskipun saat ini banyak masyarakat Togutil banyak yang tidak mengetahui hal ini namun dalam praktek kesehariannya mereka tetap menjaga kelestarian kawasan rawa sagu kali meja ini dengan pemanfaatan sagu hanya untuk mengambil kebutuhan pokok (sagu) saja sedangkan untuk keperluan atau kebutuhan lainnya saat ini sebagian masyarakat Togutil (Dodaga) telah melakukan penanaman di kebun (dumule).

  1. 2.      Buko

Buko adalah istilah yang menjelaskan adanya larangan untuk merusak atau mengambil tanaman dalam suatu kebun atau kawasan tertentu dalam satu periode waktu tertentu pula. Buko ini umunya dilakukan pada areal atau kawasan yang menjadi milik pribadi maupun yang umum.

Suatu kawasan yang telah dikenai Buko biasanya ditandai dengan tanda khusus seperti rumah-rumahan kecil berukuran 50 x 50 cm lalu digantungkan sebuah botol yang diikat pita/kain kecil atau adanya pohon tertentu yang digantung botol dengan pita kecil atau tanda khusus lainnya. Tanda ini kemudian diletakkan di setiap penjuru jalan menuju ke kawasan yang dilarang baik kebun milik sendiri (Dumule), Dumule ngone mata-mata (kebun milik bersama) ataupun areal mialolingiri. Bila ada yang melanggarnya akan sakit ataupun mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan ataupun bahkan dapat membayakan dirinya. Larangan ini berlaku umum bagi siapa saja tidak terbatas pada masyarakat Togutil.

Sistem ini sebenarnya bukan merupakan suatu aturan adat namun merupakan bagian dari budaya masyarakat masyarakat Togutil untuk melindungi tumbuhan yang ada dalam kebunnya atau dalam suatu kawasan mialolingiri hingga batas waktu yang telah ditentukan. Hal ini biasanya terkait dengan waktu pemanenan tanaman yang diusahakan atau sumberdaya milik bersama yang dilindungi. Pemasangan Buko umumnya dilakukan secara perorangan maupun kelompok dengan maksud untuk melindungi jenis-jenis tanaman atau sumber mata pencaharian yang dimiliki agar tidak dirusakkan atau diambil dalam jangka waktu tertentu, sekaligus sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur. Pemasangan buko biasanya dilakukan oleh pemilik kebun sendiri, dukun atau o dimono (pemimpin adat) yaitu berupa peletakan tanda Buko di areal dimana sering dilalui masyarakat atau ditempat yang mudah dilihat. Tidak ada upacara ritual adat apapun untuk dalam pemasangan buko. Adanya Buko ini maka secara tidak langsung sebenarnya masyarakat telah melakukan upaya mengeksploitasi keanekaragaman tumbuhan secara bijaksana atau tidak berlebihan.

Meskipun tidak ada sanksi yang diatur dalam aturan adat bagi pelanggarnya namun orang Togutil sangat percaya bahwa bila ada yang melanggar akan bisa sakit atau mengalami hal-hal yang tidak baik bahkan dapat mencelakai dirinya. Itulah sebabnya mereka sangat menghormati ataupun menghindari melakukan pelanggaran. Selain itu setiap anggota masyarakat yang pasti dikenai nagimi atau denda baik untuk lahan pribadi maupun lahan bersama Kebiasaan membayar denda ini merupakan suatu hal yang sudah sering dilakukan dalam kehidupan masyarakat Togutil apabila melakukan pelanggaran terhadap suatu lahan milik pribadi biasanya berhubungan langsung dengan pemiliknya. Bila itu merupakan lahan masyarakat secara umum atau areal Mialolingiri maka pembayaran denda di lakukan di depan o dimono (orang yang dituakan/semacam kepala suku). Denda tersebut akan dimanfaatkan untuk keperluan bersama.

Bila dikaji lebih dalam sebenarnya sistem ini dapat bermanfaat bila diterapkan bagi upaya pelestarian plasma nutfah terutama bagi jenis-jenis plasma nutfah tumbuhan yang bernilai ekonomis tinggi ataupun yang berpotensi untuk dikembangkan. Namun hal ini tentu saja diperlukan sosialisasi lebih lanjut dan harus ikuti dengan adanya suatu aturan yang jelas atau minimal aturan yang disepakati disepakati bersama. Hal ini disebabkan karena sistem buko ini dalam kenyataannya masih dipahami dan dikaitkan dengan hal-hal yang bersifat magis dan belum dapat diterima oleh semua kalangan masyarakat terutama masyarakat lokal lainnya.

Sebagaimana halnya masyarakat Togutil, Adat budaya yang mengarah keperlindungan lingkungan dalam masyarakat sebernarnya masih nampak dalam keseharian masyarakat maluku utara pada umumya antara lain budaya adat “Sasi”, “Matakao”, “Uru”, dan penentuan waktu panen sesuatu tanaman secara bersama-sama, atau penanaman tanaman langka dan tebang pilih. Budaya ini ternyata telah menahan laju kepunahan tanaman, seperti ditemukannya beberpa pohon tanaman cengkeh AFO yang telah berumur 400 tahun di Ternate, hutan pala di Calabay Bacan dan hutan cengkeh di Kabosa Bacan, Dokiri di Tidore dan Halmahera serta hutan kenari di Bacan dan Halmahera yang telah berumur sekitar 350 tahun (Hadad et al. 2002).

Konsep pandangan hidup masyarakat Togutil bahwa tumbuhan sebagaimana halnya manusia diyakini memiliki jiwa dalam arti bahwa tumbuhan juga berhak untuk hidup. Untuk itu maka manusia harus dapat memperhatikan ataupun memanfaatkan secara bijaksana karena sebagai-mana sumberdaya lainnya seperti tanah dan air, tumbuhan adalah sumber kehidupan bagi manusia. Anak cucu (o ngofa-ngofaka) atau dapat disebut juga manusia yang masih hidup tidak boleh menguasainya secara berlebihan, namun berkewajiban untuk memanfaatkan secara bijaksana bagi kehidupan mereka. Hal ini bermakna bahwa tidak boleh melakukan kerusakan di areal atau kawasan yang menjadi milik bersama. Kewajiban memelihara sumberadaya alam termasuk tumbuhan erat kaitannya kepercayaan asli suku ini yang masih melekat dalam kehidupan masyarakat Togutil. Konsep penghormatan terhadap leluhur masih tetap berpengaruh dalam kehidupan masyarakat Togutil terutama berkaitan dengan pemanfaatan sumberdaya alam yang dimiliki bersama.

  1. H.    Boundary Maintenance

Yang menjadi batasan suku Togutil ini adalah batasan akan pengrusakan lingkungan yang bisa mengurangi bahan-bahan kehidupan mereka. Saat ini yang menjadi permasalahan di Suku Togutil ini adalah adanya perubahan kultur budaya akibat pola pikir dari sebagian penduduk yang telah mau berbaur dengan masyarakat luar. Selain itu, adanya kegiatan pengrusakan hutan sebagai konsekuensi dari aktivitas pertambangan yang dilakukan di daerah sekitar hutan tempat tinggal mereka.

Untuk perkawinan, tidak ada batasan atau keharusan yang mengikat dalam sistem sosial tersebut, selagi ada perasaan dan restu orangtua maka terjalinlah pernikahan.

  1. I.       Free Riders/Pembonceng

Yang dikatakan pembonceng adalah komunitas atau masyarakat yang diuntungkan dengan keberadaan Suku Togutil ini, yaitu masyarakat yang hidup di areal sekitar hutan atau desa yang merupakan komunitas luar. Masyarakat ini memanfaatkan kerajinan tangan yang sering dihasilkan oleh masyarakat Togutil misalnya, tembikar, Saloi, Tolu yang berasal dari pelepah pohon sagu. Disamping itu, kemampuan suku ini dalam memanfaatkan hasil hutan sangat diperlukan, misalnya untuk aktivitas memetik buah kelapa, karena sejak kecil anak-anak Suku Togutil sudah diajarkan cara bertahan hidup di alam bebas.

  1. III.  PENUTUP

Suku Togutil sangat menjaga kearifan lokal berupa bentuk larangan untuk menebang hutan atau pohon sagu secara tidak terorganisir. Suku ini telah mengalami banyak perubahan baik dari segi agama yang telah beralih dari agama lokal menjadi agama resmi, dari yang nomaden menjadi menetap dan bermatapencaharian di luar berburu dan menangkap ikan. Namun, itu tidak berlaku pada suku primitif yang masih menetap di dalam kawasan hutan.

Pola hidup pada Suku Togotil sudah berbaur dengan masyarakat luar yang dapat dilihat dari kemampuan mereka dalam bercocok tanam. Sehingga dapat dikatakan bahwa pada Suku Togutil sudah mau membuka diri bagi masyarakat luar terkait kebudayaan walaupun masih ada sebagian yang masih tertutup dengan adanya budaya luar.

 oleh: Budi Sawitri dan Yoenita DJ

DAFTAR  PUSTAKA

 

Aminah, Andi Nur. 2011. Togutil Penghuni Rimba Halmahera. Bataviase.co.id

Anonim. 2011. Mengenali Suku Togutil. Http://aci.detik.travel/grouppetualang/1.com.  Diakses 20 Desember 2011.

Kartini, et.al. 2006. Pemanfaatan Keanekaragaman Genetik Tumbuhan Oleh Masyarakat Togutil Di Sekitar Taman Nasional Aketajawe Lolobata. Jurnal Fakultas Kehutanan Ipb : Bogor.

Latif, Busranto. 2009. Mengenai “Orang Togutil” Suku Terasing Di Pedalaman Pulau Halmahera. http://ternate.wordpress.com/2009/03/25/mengenal-orang-togutil-suku-terasing-di-pulau-halmahera-2.com. diakses 20 Desember 2011.

Martodirdjo, h.s. 1996. Orang Togutil Di Halmahera. [Disertasi]. Universitas Padjadjaran Bandung.

Sosebeko, theo s. 2010. Asal Usul Suku Togutil Di Bumi Halmahera. Http://www.halmaherautara.com/bdy/asal-usul-suku-togutil-di-halmahera.html. Diakses 17 Desember 2011.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: