Pengaruh Modernisasi Perikanan Terhadap Perubahan Sosial Suku Bajo di Desa Katela Kec. Tikep Kab. Muna Prov. Sultra

A.    Pendahuluan

Perubahan sosial dialami oleh setiap masyarakat yang pada dasarnya tidak dapat dipisahkan dengan perubahan kebudayaan masyarakat yang bersangkutan. Perubahan sosial dapat meliputi semua segi kehidupan masyarakat, yaitu perubahan dalam cara berpikir dan interaksi sesama warga menjadi semakin rasional; perubahan dalam sikap dan orientasi kehidupan ekonomi menjadi makin komersial; perubahan tata cara kerja sehari-hari yang makin ditandai dengan pembagian kerja pada spesialisasi kegiatan yang makin tajam; Perubahan dalam kelembagaan dan kepemimpinan masyarakat yang makin demokratis; perubahan dalam tata cara dan alat-alat kegiatan yang makin modern dan efisien dan lain sebagainya.

Dari beberapa pendapat ahli ilmu sosial yang dikutip, dapat disinkronkan pendapat mereka tentang perubahan sosial, yaitu suatu proses perubahan, modifikasi, atau penyesuaian-penyesuaian yang terjadi dalam pola hidup masyarakat, yang mencakup nilai-nilai budaya, pola perilaku kelompok masyarakat, hubungan-hubungan sosial ekonomi, serta kelembagaan-kelembagaan masyarakat, baik dalam aspek kehidupan material maupun nonmateri.

Perubahan sosial yang terjadi di masyarakat dapat diketahui dengan cara membandingkan keadaan masyarakat pada waktu tertentu dengan keadaan dimasa lampau. Perubahan yang terjadi dalam masyarakat akan menimbulkan ketidaksesuaian antara unsur-unsur yang ada dalam masyarakat. Sehingga akan mengubah struktur dan fungsi sosial masyarakat tersebut.

Begitupun halnya yang terjadi pada masyarakat peisisir atau masyarakat nelayan suku Bajo di Desa Katela, yang mana pada tahun 2002 hingga kini telah mengalami perubahan ke arah yang lebih baik dilihat dari pendidikan, kesejahteraan dan berdampak pada status sosialnya.

Secara kultural, orang Bajo masih tergolong masyarakat sederhana dan hidup menurut tata kehidupan lingkungan laut, dikenal sebagai pengembara lautan (sea gypsies), yaitu hidup dengan mata pencaharian yang erat hubungannya dengan lautan, serta memiliki pengetahuan dan keterampilan menangkap ikan di lautan (Mamar, 2005:1).

Laut dan orang Bajo merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan dalam kultur orang Bajo. Karena itu, ada dua konsep utama yang dikemukakan oleh Mamar (2005:2) yaitu: (1) Laut, adalah wilayah perairan yang luas dan airnya asin yang memiliki berbagai fungsi. Laut bagi orang Bajo mutlak adanya, karena selain sebagai tempat tinggal, juga sebagai tempat mencari nafkah hidupnya, (2) Orang Bajo, adalah sekelompok orang pengembara lautan yang berdomisili bersama keluarganya di laut atau pesisir pantai.

Sebagai suatu sistem, masyarakat nelayan terdiri atas kategori-kategori sosial yang membentuk kesatuan sosial. Mereka juga memiliki sistem nilai dan simbol-simbol kebudayaan sebagai referensi perilaku mereka sehari-hari. Faktor kebudayaan inilah yang menjadi pembeda antara masyarakat nelayan dengan kelompok sosial lainnya. Sebagian besar masyarakat pesisir, baik langsung maupun tidak langsung, menggantungkan kelangsungan hidupnya dari mengelola potensi sumberdaya kelautan.

Sebagai komunitas, mereka juga memiliki struktur sosial tersendiri yang menyebabkan mereka mempunyai budaya, bahasa dan adat istiadat tersendiri. Sama halnya dengan masyarakat lain, masyarakat Bajo juga memiliki masalah dalam kehidupannya, bahkan cenderung kompleks. Mulai dari kemiskinan yang membelenggu, tingkat pendidikan yang rendah, pola kehidupan yang hanya bergantung pada laut, tertinggal baik dalam pembangunan maupun mental, eksploitasi hasil laut yang semua itu menyebabkan mereka terkadang tidak ikut berpartisipasi dalam pembangunan.

Berdasarkan data Dinas Kelautan dan Perikanan tahun 2006 (Gilib, 2009 : 1) menyatakan  jumlah desa pesisir tercatat 8.090 desa yang tersebar di seluruh pulau besar maupun kecil. Pada desa pesisir tersebut berdomisili 16 juta jiwa penduduk dan sekitar 4 juta jiwa berprofesi sebagai nelayan, 2,6 juta pembudidaya ikan, serta berprofesi lain-lainnya sebanyak 9,7 juta. Diantara 16 juta jiwa tersebut ada sekitar 5,2 juta jiwa tergolong miskin.

Hal inipun yang terjadi pada masyarakat bajo Desa Katela, Kecamatan Tikep Kab. Muna. Masyarakat pesisir ini merupakan lapisan masyarakat yang paling miskin jika dibandingkan dengan masyarakat lain di luar pesisir. Hal itu dikarenakan pendapatan yang diperoleh bersifat harian dengan jumlah yang tidak menentu. Selain itu pendapatan yang berfluktuasi tergantung pada musim dan status nelayan itu sendiri (pemilik kapal atau anak buah  kapal). Berdasarkan ukuran yang dapat dilihat yaitu dari rumah tempat tinggal, pakaian, gaya hidup, status sosial secara umum tergolong tidak sejahtera. Beberapa pemukiman masyarakat nelayan termasuk kumuh dan sederhana. Hanya ada beberapa nelayan yang memiliki rumah relatif bagus dan itu dimiliki oleh pemilik kapal atau juragan.

Beberapa hal yang menimbulkan kemiskinan pada masyarakat nelayan suku bajo menurut Aslan (2009:54), diantaranya adalah sumberdaya manusia yang rendah, keterbatasan penguasaan teknologi, budaya kerja yang belum mendukung kemampuan manajerial yang masih rendah, keterbatasan modal usaha, rendahnya tingkat pendapatan rumah tangga nelayan dan kesejahteraan sosial masyarakat yang rendah sehingga mempengaruhi mobilitas sosial mereka. Hal yang sangat bertolak belakang apabila dibandingkan dengan sumberdaya alam yang melimpah dari wilayah pesisir tempat tinggal mereka. Dimana potensi sumberdaya alam yang dimiliki oleh wilayah pesisir sangat bernilai ekonomis tinggi apabila dikembangkan dan dimanfaatkan sesuai dengan fungsinya masing-masing. Misalnya, budidaya rumput laut, pengawetan ikan, dan lain sebagainya. Namun, hal itu tidak dapat dilakukan dan dikembangkan karena terhambat oleh kurangnya ilmu pengetahuan dan keterampilan masyarakat untuk mengelolanya menjadi bernilai ekonomis.

Melihat keadaan ini, pemerintah Prov. Sultra bekerja sama dengan pelaku bisnis untuk membantu memperbaiki taraf hidup masyarakat nelayan yang direalisasikan dalam bentuk modernisasi perikanan. Program tersebut antara lain bantuan modifikasi sarana penangkapan, pemberian kredit bergulir pada masyarakat pesisir, serta penyuluhan lingkungan pesisir dan lautan.

B.     Aplikasi Modernisasi Perikanan dan Perubahan Sosial Masyarakt Bajo

Pada dasarnya setiap program yang bersentuhan langsung dengan masyarakat akan berdampak pada norma serta budaya lokal setempat. Demikian pula dengan kelestarian lingkungan laut, begitu juga dengan pantai yang menjadi sumber utama mata kegiatan nelayan.

Kehidupan nelayan terutama pada lapisan buruh dalam kegiatan penangkapan ikannya tergantung pada hubungan dengan juragan (pemiliki modal dan kapal). Hal itu dikarenakan kekurangan modal atau finansial yang memadai. Kekurangan modal tersebut semakin menambah beban, tantangan serta persaingan yang besar dalam rangka pemanfaatan sumberdaya laut. Disatu sisi nelayan buruh dengan kemampuan dan keterampilan menangkap ikan yang merupakan potensi, disisi lain tidak adanya modal adalah kendala, mengingat wilayah laut adalah wilayah terbuka yang dapat dimanfaatkan oleh siapa saja yang memiliki kemampuan untuk mengolah sumber daya alam yang ada di dalamnya dan berlakunya hukum alam, siapa kuat dia adalah raha.

Pembangunan sebagai hasil dari modernisasi ini ditanggapi beragam oleh beberapa kelompok masyarakat nelayan di desa Katela ini. Dalam komunitas nelayan perubahan yang nampak adalah berubahnya pola kerja, sistem stratifikasi baik karena dasar penguasaan alat produksi maupun mencakup pula kekuasaan. Perubahan stratifikasi juga terjadi pada organisasi penangkapan sebagai implikasi dari alih teknologi tersebut, sehingga kelembagaan nelayan yang telah terbangun sebelumnya biasanya akan terjadi perubahan juga.

Modernisasi perikanan ini berdampak pada kehidupan sosial nelayan maupun komunitas nelayan tersebut. Dampak tersebut adalah perubahan pola kerja dari penggunaan teknologi lama yang masih sederhana yaitu perahu dayung menjadi teknologi baru berupa perahu motor tempel yang lebih modern, efektif dan efisien. Efektifitas dan efisiensi modernisasi tersebut menimbulkan diferensiasi yakni munculnya unit-unit sosial baru yang berdampak pada perubahan struktur sosial masyarakat nelayan. Perubahan tersebut terjadi pada level nelayan maupun komunitas. Pada level nelayan, diferensiasi tersebut menimbulkan nelayan terstratifikasi dalam beberapa lapisan, misalnya nelayan pemilik kapal dan sebagainya yang dalam bahasa Bajo disebut punggawa dan pekerja disebut sawi. Perubahan lapisan nelayan tersebut jelas berdampak pada perubahan stratifikasi pada level komunitas sehingga struktur sosial berubah yang awalnya ascribed dan achieved status menjadi hanya achieved status saja.

Dilihat dari pola kerja berdasarkan dimensi waktu yang digunakan, perubahan yang terjadi sangat signifikan. Yang mana dengan menggunakan teknologi lama, pola kerja dengan daya jelajah yang lebih dekat, waktu melaut lebih singkat, jumlah pekerja lebih sedikit serta pembagian tugas tidak ada atau ada tetapi tidak jelas. Sedangkan penggunaan teknologi baru (modernisasi) pola kerja daya jelajah lebih jauh, waktu melaut lebih panjang, tenaga kerja lebih banyak dan pembagian tugas lebih jelas. Selain itu pembagian hasil juga lebih terorganisir, sehingga semakin baik teknologi penangkapan ikan yang digunakan maka semakin banyak hasil yang diperoleh dan hal itu berdampak pada semakin tingginya tingkat pendapatan nelayan.

Selain kegiatan penangkapan ikan, kegiatan yang menjadi fokus perhatian saat ini adalah usahatani rumput laut. Harga rumput laut yang relatif tinggi di pasaran, menjadikannya komoditas utama pada masyarakat nelayan. Kegiatan ini dominan dilakukan oleh para wanita masyarakat bajo. Pendampingan yang dilakukan pemerintah daerah setempat secara berkala sangat dirasakan manfaatnya, berupa peningkatan pengetahuan dan keterampilan masyarakat pesisir. Selain memberikan pelatihan budidaya rumput laut, aparat pemerintah setempat juga mengajarkan keterampilan memanfaatkan hasil laut berupa kerang yang dapat menjadi barang bernilai ekonomis tinggi jika sudah berupa aksesoris dan sebagainya. Terbukti, saat ini beberapa kelompok wanita nelayan memanfaatkan hasil alam itu dan telah dipasarkan.

Perubahan selanjutnya yang dialami oleh masyarakat bajo adalah mulai tumbuhnya tingkat kesadaran akan kelestarian lingkungan alam dengan adanya gerakan sukarela menghijaukan kembali terumbu karang dan bakau, dengan adanya larangan untuk tidak melakukan penangkapan ikan menggunakan bom atau racun yang sangat membahayakan keberlangsungan ekosistem alam. Hal ini dilakukan karena daerah pesisir Kecamatan Tiworo Kepulauan merupakan daerah pertemuan antara muara sungai dengan laut lepas menyebabkan kondisi air yang  payau, sehingga menjadi daerah habitat ikan dan aneka satwa laut lainnya.

C.    Penutup 

Berdasarkan uraian di atas, dapat diambil kesimpulan yaitu dengan adanya modernisasi perikanan membawa dampak pada berbagai segi kehidupan nelayan. Penggunaan setiap jenis sarana tersebut menimbulkan konsekuensi atau dampak berupa pola kerja, struktur sosial serta tingkat kesejahteraan nelayan. Perubahan lainnya dari modernisasi adalah meningkatnya ilmu pengetahuan dan keterampilan masyarakat nelayan dalam bidang budidaya rumput laut dan pemanfaatan hasil laut baik berupa aksesoris dan sebagainya. Selain itu, kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan alam yang sudah berorientasi pada keberlangsungan ekosistem alam.

oleh: Yoenita JD

DAFTAR PUSTAKA

Aslan, La Ode Muhamad dan Nadia, La Ode Abdul Rajak. 2009. Potret Masyarakat Pesisir Sulawesi Tenggara. Kendari : Unhalu Press.

Gilib. 2009. Pengembangan Ekonomi Daerah Berbasis Kawasan Andalan pada Desa Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil di Kabupaten Munahttp://digilib.its.ac.id/public/ITS-Master-8704-4107205007 .  Diakses 24 Juli 2010.

Mamar, Sulaeman. 2005. Kebudayaan Masyarakat Maritim. Palu: Tadulako University Press.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: