Gerakan Sosial via Facebook

Pedahuluan

Jejaring sosial pada saat ini begitu fenomenal. Facebook, friendster, myspace, twitter, dll begitu mempesona jutaan manusia dimuka bumi ini. Dengan jejaring sosial memungkinkan kita untuk berinteraksi satu sama lain baik melalui fitur wall (pesan di dinding) maupun melalui fasilitas chatting. Bukan hanya sebatas wadah pertemanan di dunia maya, jejaring sosial seperti facebook dapat digunakan untuk sarana menggalang massa sebagai wujud gerakan sosial. Sebab, sangat mudah membuat maupun bergabung dengan suatu grup tertentu.

Kemudahan membuat grup di Facebook dimanfaatkan untuk melakukan berbagai gerakan sosial. Jika biasanya untuk menginisiasi suatu gerakan sosial orang harus kasak-kusuk menghimpun massa dan melakukan tatap muka langsung, kini dapat dilakukan lewat Facebook. Melalui Facebook, orang yang tidak saling kenal bisa bersatu padu untuk menyuarakan suatu aspirasi demi mendobrak suatu keadaan yang dinilai menyimpang.

Banyak contoh yang bisa kita temukan. Di tahun 2009, muncul gerakan bertajuk ”Dukungan Bagi Ibu Prita Mulyasari, Penulis Surat Keluhan Melalui Internet Yang Dipenjara, yang di dukung lebih dari 5900 anggota group. Ada pula gerakan bertajuk Gerakan 1.000.000 Facebooker Dukung Chandra Hamzah dan Bibit Samad Rianto, yang menembus angka satu juta dukungan. Di luar negeri, jatuhnya Presiden Tunisia Zine El Abidine Ben Ali yang sudah berkuasa selama lebih dari 23 tahun dan Presiden Mesir Hosni Mobarak yang memimpin negeri selama lebih dari 30 tahun disinyalir berawal dari gerakan social melalui jejaring social, diantaranya Facebook.

Terlepas dari sukses tidaknya sebuah grup menarik banyak dukungan pengguna Facebook, situs jejaring sosial ini dapat memainkan peran penting sebagai gerakan social mewujudkan suatu kontrol sosial. Sangat banyak grup-grup sosial yang bermunculan di Facebook, namun tidak semua grup-grup tersebut berhasil menarik banyak simpati dari pengguna Facebook. Seberapa penting atau menariknya isu yang dibawa dan juga kredibilitas si pengusung isu juga dapat mempengaruhi banyak sedikitnya dukungan yang diterima. Selain itu, muncul pula strategi baru untuk menekan partisipasi public dalam gerakan social, terutama yang berkaitan dengan pihak swasta yang melayani kehidupan masyarakat.

Penulisan paper ini bertujuan untuk mengetahui, menjelaskan dan menilai gerakan social yang dilakukan melalui jejaring social, terutama Facebook.

KERANGKA TEORITIS

Gerakan sosial didefinisikan oleh Sztompka (2007) sebagai tindakan kolektif yang diorganisir secara longgar, tanpa cara terlembaga untuk menghasilkan perubahan dalam masyarakat mereka. Sztompka juga menambahkan beberapa definisi gerakan sosial menurut para ahli.

  • Blumer (1951 ; 199) gerakan sosial adalah upaya kolektif untuk membangun tatanan kehidupan yang baru
  • Lang & Lang (1961: 507) gerakan sosial adalah upaya kolektif untuk mengubah tatanan sosial
  • Turner & Killian (1972:246) gerakan sosial adalah tindakan kolektif berkelanjutan untuk mendorong atau menghambat perubahan dalam masyarakat atau dalam kelompok yang menjadi bagian masyarakat itu.

Ciri gerakan sosial yang lebih luas menurut Eyerman & Jamison (1991: 43-4) adalah tindakan kolektif yang kurang lebih terorganisir, bertujuan perubahan social atau lebih tepatnya kelompok individu yang secara bersama bertujuan mengungkapkan perasaan tak puas secara kolektif di depan umum dan mengubah basis social dan politik yang dirasakan tak memuaskan itu.

Para akademisi menyebut pentingnya proses framing dalam memahami sukses tidaknya sebuah gerakan sosial. Menurut Snow dan Banford, suksesnya gerakan sosial terletak pada sejauh mana mereka memenangkan pertempuran atas arti. Hal ini berkaitan dengan upaya para pelaku perubahan mempengaruhi makna dalam kebijaksanaan publik. Oleh karena itu, pelaku perubahan memiliki tugas penting mencapai perjuangannya melalui pembuatan framing masalah-masalah sosial dan ketidakadilan. Cara ini merupakan upaya meyakinkan kelompok sasaran yang beragam dan luas sehingga mereka terdorong mendesakkan sebuah perubahan. Komponen utama dari proses framing  gerakan adalah diagnosis elemen atau mendefinisikan masalah dan sumbernya serta memprediksi elemen sekaligus mengindentifikasi strategi yang tepat untuk memperjuangkan masalah tersebut. Snow menambahahkan bahwa proses framing membuat orang mampu memformulasikan sekumpulan konsep untuk berpikur dengan menyediakan skema interpretasi terhadapa masalah-masalah di dunia. Skema ini bisa melalui menyalahkan atau menyarankan garis aksi (Snow dan Banford, 1988 dalam Situmorang, 2007).

Untuk mencapai sebuah kelompok sasaran, aktor gerakan membutuhkan alat dalam menjalankan framing, yaitu media. Zald berpendapat bahwa pengkontesan framing terjadi dalam interaksi berhadap-hadapan dan melalui beragam media cetak dan elektronik (Zald, 1996 dalam Situmorang, 2007). Yang terbaru, jejaring pertemanan di internet (misalnya, Facebook) menjadi ‘ruang’ pertemuan untuk berdebat dan mensosialisasikan isu sehingga kelompok masyarakat berkeinginan untuk terlibat dalam gerakan social tersebut.

Indikasi awal untuk menangkap gejala gerakan sosial menurut John Lofland (Protes; Insist Press 2003 dalam Iswinarto, 2008) adalah dengan mengenali terjadinya perubahan-perubahan pada semua elemen arena publik dan ditandai oleh kualitas “aliran” atau “gelombang”. Dalam prakteknya suatu gerakan sosial dapat diketahui terutama lewat banyak organisasi baru yang terbentuk, bertambahnya jumlah anggota pada suatu organisasi gerakan dan semakin banyaknya aksi kekerasan atau protes terencana dan tak terencana.

Selain itu menurut Lofland dua aspek empiris gelombang yang perlu diperhatikan adalah, pertama, aliran tersebut cenderung berumur pendek antara lima sampai delapan tahun. Jika telah melewati kurun waktu itu gerakan akan melemah dan meskipun masih ada akan tetapi gerakan telah mengalami proses ‘cooled down’. Kedua, banyak organisasi kekerasan atau protes yang berubah menjadi gerakan sosial atau setidaknya bagian dari gerakan-gerakan yang disebut diatas. Organisasi-organisasi ini selalu berupaya menciptakan gerakan sosial – atau jika organisasinya memiliki teori operasi yang berbeda maka mereka akan dengan sabar menunggu pergeseran struktur makro yang akan terjadi (misalnya krisis kapitalisme) atau pertarungan yang akan terjadi antara yang baik dan jahat, atau kedua hal tersebut, serta menunggu kegagalan fungsi lembaga sentral. Kala itulah gerakan itu bisa dikenali sebagai gerakan pinggiran, gerakan awal dan embrio gerakan.

Lebih lanjut dapat dirumuskan bahwa sebuah gerakan sosial terdiri dari

1.  Lahirnya kekerasan atau protes baru dengan semangat muda yang dibentuk secara independent

  1. Bertambahnya jumlah (dan peserta) aksi kekerasan dan/atau protes terencana dan tak terencana (terutama kumpulan) secara cepat
  2. Kebangkitan opini massa
  3. Semua yang ditujukan kepada oknum lembaga sentral
  4. Sebagai bentuk usaha untuk melahirkan perubahan pada struktur dari lembaga-lembaga sentral.

Selain itu 5 gejala gerakan sosial seperti disebutkan oleh Lofland, pemahaman tentang gerakan sosial dapat diturunkan lebih jauh kedalam enam pertanyaan pokok tentang Gerakan Sosial. Ke 6 pertanyaan pokok merupakan indikator yang praktis untuk menganalisis gerakan sosial sekaligus sebagai petunjuk praktis bagi pelaku gerakan sosial untuk ‘merancang’ atau paling tidak memicu gerakan sosial
1.Kepercayaan : hal-hal yang dianggap benar (ideologi, doktrin, pandangan, harapan, kerangka berpikir, wawasan, perspektif.)

  • realitas apa yang mereka tuntut/pertentangkan
  • siapa yang dianggap lawan dan siapa yang diteladani
  • perubahan secara total atau parsial
  • pada tingkatan individual atau ‘supra individual’ (politik, ekonomi,
    budaya)

2. Organisasi : cara bagaimana orang-orang yang mempunyai ‘pandangan’ yang sama, diatur/diarahkan untuk mencapai tujuan.

  • bagaimana orang-orang diorganisir/cara-cara mengorganisir
  • bagaimana proses pengambilan keputusan (sentralistik/desentralistik)
  • adakah pembagian kerja di organisasi gerakan
  • cara memelihara orang-orang tetap melaksanakan tugasnya
  • cara-cara memperoleh dana dari gerakan
  • organisasi bersifat sementara atau permanent

3. Sebab-sebab : variabel-variabel yang berpengaruh terhadap gerakan social

  • bagaimana gerakan sosial dimulai/dibentuk
  • kapan gerakan itu dibentuk
  • mengapa gerakan itu muncul

Secara teoritik ada 16 variabel yang berpengaruh, yaitu:

  1. perubahan dan ketimpangan social
  2.  kesempatan politik
  3. campurtangan negara terhadapkehidupan warga
  4. kemakmuran (yang menimbulkan deprivasi ekonomi)
  5. konsentrasi geografis
  6. identitas kolektif
  7. solidaritas antar kelompok
  8. krisis kekuasaan
  9. melemahnya kontrol kelompok yang dominant
  10. pemfokusan krisis
  11. sinergi gelombang warga negara (penduduk)
  12. adanya pemimpin
  13. jaringan komunikasi
  14. integrasi jaringan di antara para pembentuk potensial
  15. adanya situasi yang memudahkan para pembentuk potensial
  16. kemampuan mempersatukan

4. Keikutsertaan : keanggotaan dalam arti yang paling lemah sampai yang paling kuat

  • mengapa orang ikut dalam gerakan
  • sampai seberapa jauh keterlibatannya dalam organisasi
  • siapa yang menjadi pendukung gerakan
  • bagaimana mensosialisasikan gerakan kepada pengikutnya

5. Strategi : cara atau metode untuk melakukan sesuatu dalam rangka mencapai tujuan

  • usaha-usaha apa yang dilakukan untuk mencapai tujuan gerakan
  • apa ada tujuan utama dari setiap strategi yang digunakan
  • dalam mencapai tujuan itu, lebih menekankan pada perubahan
    institusi-institusi sosial (societal manipulation) ataukah dengan mengubah
    hati dan pemikiran orang-orang (personal transformation)
  • strategi yang digunakan bersifat terbuka atau tertutup, terang-terangan
    atau tersembunyi
  • menggunakan strategi penyerangan frontal atau pengikisan
  • ‘pendirian’ mereka dinyatakan secara halus (polite), melalui aksi protes
    atau kekerasan
  • mekanisme taktik yang digunakan terhadap kelompok sasaran : persuasi,
    negosiasi atau paksaan

6. Efek : tanggapan atau reaksi kalangan luar terhadap gerakan sosial

  • reaksi penguasa
  • reaksi elit
  • reaksi media
  • reaksi sesama gerakan sosial

ANALISIS

 Komunikasi

Komunikasi adalah tulang punggung dari demokrasi, karena seluruh proses demokrasi menggunakan komunikasi sebagai alatnya. Begitu pula dengan teknologi komunikasi. Karena itu, di dunia yang mengalami revolusi teknologi komunikasi, segala sesuatu dapat berubah dengan sangat cepat. Rogers (1986) menyatakan bahwa model komunikasi yang berbasis teknologi dan saluran interpersonal akan efektif untuk menggerakkan massa. Dengan kata lain, untuk sebuah gerakan sosial sangat dibutuhkan proses komunikasi yang dilakukan melalui media. Facebook salah satu media yang bisa digunakan oleh aktor gerakan untuk mencapai kelompok sasaran.

Dulu, Mark Zuckerberg mungkin tak membayangkan bahwa situs jejaring sosial ciptaannya akan begitu populer seperti sekarang. Beberapa tahun terakhir, situs pertemanan ini begitu terkenal dan disukai banyak orang. Demam Facebook telah lama menjangkit pengguna internet di Indonesia.

Banyak alasan mengapa begitu banyak orang terpikat dengan pesona situs jejaring social yang satu ini. Salah satu kelebihannya adalah sifatnya yang interaktif memungkinkan orang berinteraksi satu sama lain baik melalui fitur wall (dinding) maupun melalui fasilitas chatting. Bukan hanya sebatas wadah pertemanan di dunia maya. Facebook juga dijadikan sarana untuk menggalang massa. Ini dipicu karena sangat mudah untuk membuat maupun bergabung dengan suatu grup tertentu.

Facebook kini menjadi jaringan komunikasi deengan suatu kemajuan penting. Jaringan komunikasi terdiri dari orang-orang yang saling terjalin yang dirangkai oleh arus informasi yang terpola. Jejaring itu mempunyai suatu tingkat kestabilan tertentu yang terstruktur. Mengamati jejaring membantu menjelaskan struktur komunikasi, unsur-unsur yang berbeda-beda yang dapat dilihat dalam arus-arus komunikasi yang terpola dalam suatu sistem. Struktur ini begitu rumit, merupakan suatu sistem yang kecil sehingga anggota sistem sosial kadang tidak menyadari adanya struktur komunikasi dimana mereka termasuk di dalamnya. Misalnya, dalam suatu grup Facebook yang terdiri dari 100 orang mungkin terdapat 4.950 rantai jaringan (dihitung dengan rumus N(N-1)/2, dimana N adalah jumlah anggota sistem) (Rogers, 1986). Sebuah kekuatan besar yang tersembunyi dan lebih banyak tidak disadari.

Poin utamanya dari gerakan sosial melalui facebook adalah mudah bagi banyak orang untuk memulai aktivisme di Internet, tetapi besar-tidaknya gerakan yang dihasilkan bergantung pada isu yang diusung dan dinamika proses penyebaran informasi selanjutnya.

Mudah dan Cepat

Seberapa kuat potensi gerakan ini melalui facebook ini menjadi besar? Sepintas kita berpikir tak sulit membuat gerakan sosial di Internet karena orang dapat melakukannya hanya dengan mengklik sambil tiduran sekalipun. Ini memang benar, tapi justru karena begitu mudahnya memulai gerakan di Internet, orang akan dibombardir oleh ajakan untuk bergabung dengan aneka macam gerakan. Akibatnya orang akan memilah-milah grup mana yang paling cocok. Karena orang memilih secara sadar, kita bisa menganggap grup aktivisme yang besar menjadi besar bukan hanya karena mudah bagi orang untuk ikut serta, tapi juga karena memang isu yang diangkat mendapat dukungan luar biasa.

Selain itu, ada fitur facebook yang tepat untuk menjadi alat rekrutmen sebuah gerakan, yaitu wall , yang membuat kita bisa melihat saat teman kita menjadi anggota sebuah grup. Manusia adalah mahluk sosial yang selalu memperhatikan apa yang dilakukan orang lain di sekitarnya. Melihat banyak orang dalam jejaring kita sendiri bergabung dengan sebuah grup akan memberikan tekanan sosial untuk bergabung.

Mendapat invite dari teman untuk bergabung membuat kita pikir-pikir. Melihat sebuah grup beranggota besar (atau kerumunan massa besar) tidak otomatis membuat kita tertarik bergabung karena kita dapat menganggap kelompok itu berbeda. Tapi melihat teman kita sendiri berbondong-bondong bergabung, memberikan dorongan luar biasa untuk ikut. Wall di facebook memungkinkan kita melihat apa yang dilakukan teman-teman. Dan, jika banyak teman kita melakukan hal serupa, besar kemungkinan kita akan melakukan hal itu juga.

Dinamika ini konsisten dengan penelitian mengenai gerakan sosial yang menemukan bahwa, dalam banyak kasus, seseorang menjadi aktivis bukan karena kesamaan ideologi atau pandangan lalu bergabung dengan kelompok. Ia diajak temannya untuk bergabung ke kelompok dan baru menjadi aktivis ketika sudah menjadi bagian kelompok itu dan belajar mengenai isu yang diperjuangkan.

Attayaya (2011) menuliskan sebuah istilah Social Media Storm. Storm dimaksud disini adalah sebuah “badai” yang datang menderu yang menjadi suatu gerakan yang bermanfaat dan dapat dimanfaatkan untuk hal-hal yang positif. Ia mencontohkan sebuah gerakan berikut ini :

GREENPEACE mengajak setiap pengguna facebook menuliskan komentar di http://www.facebook.com/note.php?note_id=138626456210552&comments untuk memberitahukan kepada pihak FACEBOOK agar menggunakan RENEWABLE ENERGY (sumber tenaga terbarukan) pada setiap kantor dan komputer servernya. Status yang ditulis Greenpeace adalah : COMMENT HERE NOW for the World Record attempt, and share! (50,000 needed!) oleh Unfriend Coal pada 13 April 2011 jam 11:59 ► 50,000 comments to go in 24 hours! ◄ Unfriend Coal adalah salah satu program kerja Greenpeace untuk meminta facebook menggunakan energi terbarukan. GREENPEACE menargetkan 50.000 komentar dalam 24 jam. Setelah 5 jam status Greenpeace dibuat, terdapat 19.975 komentar. Dalam kurun waktu 12 jam 30 menit. gerakan GREENPEACE seperti tersebut telah melampaui target dengan menghasilkan 56.397 komentar dalam waktu tersisa adalah 11 jam 30 menit dari target 24 jam untuk menghasilkan 50.000 komentar.

Proses yang begitu cepat tersebut dipengaruhi juga oleh system berantai para komentator. Seseorang yang memberi komentar akan merekomendasikan topic tersebut pada teman atau groupnya. Padahal, satu orang sangat mungkin memiliki lebih dari satu group yang berisi dengan orang-orang yang berbeda. Seperti yang dikatakan Rogers (1986) bahwa satu prinsip pokok komunikasi manusia adalah pemindahan ide-ide seringkali terjadi antara orang-orang yang sepadan atau homofili. Sebuah grup dalam facebook biasanya didasari oleh suatu kesamaan, mungkin pandangan, kepercayaan, pendidikan, status sosial atau semacamnya. Komunikasi yang efektif seperti itu menyenangkan orang-orang yang terlibat di dalamnya.

Kekuatan Isu

Banyak hal yang mungkin kita dapati setiap harinya mengenai berbagai aspek kehidupan di dunia. Baik bidang politik, budaya, sosial, pendidikan dan lain sebagainya. Apalagi ketika kita membuka internet, atau melihat status yang tertulis dalam facebook. Apa yang menjadi intinya, kita terkadang hanya mengacuhkan saja sesuatu yang kadang setiap harinya selalu ada di sekitar kita. Inilah yang kan menjadi awal daripada isu, yaitu masalah. Masalah-masalah yang berawal dari masalah pribadi, lalu kelompok, masyarakat, dan hingga menuju masalah negara atau dunia. Suatu masalah kecil apakah pantas diabaikan bila nanti akan menimbulkan suatu masalah yang besar, di dalam lingkup yang lebih besar pula? Tentunya tidak.

Isu adalah suatu hal atau masalah yang sering diperbincangkan, dibahas, maupun diperdengarkan. Bisa berupa isu internal, hal-hal kecil yang kita temui atau rasakan. Bisa juga isu-isu besar atau isu eksternal. Isu-isu besar yang perlu mendapat perhatian yaitu isu eksternal. Karena dimulai dari sebuah permasalahan kecil yang tanpa suatu perhatian dan malah diabaikan. Maka, masalah-masalah yang akhirnya menjadi sebuah masalah besar dalam lingkup besar dan berdampak besar pula. Berawal dari sering di perbincangkan, di share dengan teman di facebook. Bahkan di bahas dan dianalisis secara ilmiah. Hasil perbincangan dan pembahasan itu  menghasilkan suatu bentuk saran, kritik, dorongan, dan menguat menjadi aksi.

Kekuatan isu dalam gerakan sosial di facebook dipengaruhi oleh beberapa hal. Diantaranya, topic yang menjadi perhatian masyarakat (misalnya, korupsi), popularitas seseorang, atau sesuatu yang berbeda (unik/aneh). Isu semakin menguat karena tersedianya fitur interaktif sesama pengguna facebook baik melalui wall maupun obrolan/chat diseluruh belahan negeri bahkan dunia. Kemudahan lain, pembahasan isu melalui facebook sangatlah mudah karena jaringan internet di “jendela sebelahnya” menyediakan beragam ulasan dan update berita atau kasus yang sedang di bahas.

Pemimpin Gerakan

Jo Freeman dalam On The Origins of Social Movement menyebutkan bahwa salah satu penggerak dari gerakan sosial adalah rangkaian krisis yang mendorong orang-orang untuk terlibat dalam gerakan. Dalam beberapa kasus gerakan sosial, eskalasi krisis lah yang menjadi alasan utama lahirnya sebuah gerakan. Di Tunisia misalnya, eskalasi krisis dimulai oleh aksi bunuh diri pemuda bernama Mohamed Bouazizi. Ketika Tunisia memanas dan berhasil menggulingkan presidennya, momentum inilah yang lalu menginisiasi terjadinya gerakan rakyat di Mesir.

Eskalasi krisis yang memuncak inilah yang kemudian harus segera diorganisir. Krisis pada dasarnya hanya akan mempercepat terbentuknya jaringan komunikasi. Setelah itu, individu yang berada di dalamnya tidak boleh dibiarkan bergerak sendiri-sendiri, melainkan harus dihubungkan oleh seseorang yang berpengaruh (atau memiliki wewenang). Seorang organisator ataupun pemimpin dalam sebuah gerakan menempati posisi yang signifikan. Sebagai simbol gerakan, tokoh ini akan membantu mengorganisir massa gerakan kepada suatu tujuan yang telah disepakati bersama: perubahan.

Sebagai contoh, gerakan facebooker mendukung KPK di tahun 2009 yang digagas oleh Usman Yasmin, aktivis dan dosen asal Bengkulu, Sebenarnya tidak heran grup facebook yang mendukung KPK tersebut menjadi besar karena KPK sudah lama menjadi primadona publik dibanding lembaga hukum lain dan masalah korupsi juga sudah menjadi perhatian umum. Saat KPK dipersalahkan, terjadi krisis. Saat itulah, Usman menawarkan suatu bentuk gerakan melalui facebook.  Melalui gerakan tersebut, Usman menghubungkan individu-individu sehingga terbentuknya jaringan komunikasi. Secara tidak langsung, Usman telah memimpin dan mengorganisir massa pada suatu gerakan yang dengan tujuan yang telah disepakati yaitu membela KPK. Berbeda dengan aksi protes di dunia non-Internet yang perlu pengorganisasian intensif sebelumnya, aksi di Internet dapat terjadi secara organik.

Tentunya ini bukan berarti aksi terjadi secara spontan; banyak grup di facebook yang terbentuk spontan tapi tidak menjadi besar karena mungkin tidak cukup banyak orang yang merasa isu tersebut penting. Masalah korupsi memang populer. Selain itu, latar belakang Pak Usman yang aktivis dan dosen, memang tak dapat dikesampingkan begitu saja; mungkin ia sudah terbiasa mengungkapkan opini dan perasaan ke publik sehingga tidak merasa canggung untuk memulai sebuah aksi.

Next Support

Jangan kita lupakan peran media massa. Dalam kasus ini, media massa terus-menerus melaporkan perkembangan gerakan di facebook. Bagi mereka yang tidak terkoneksi ke Internet, efeknya seperti mendengar ada demonstrasi besar di kota lain; mereka tidak melihat atau merasakan secara langsung tapi menjadi tahu akan keberadaan sebuah kelompok besar yang kesal akan suatu hal. Gerakan facebook adalah sinyal adanya sebuah masalah penting yang membuat banyak orang geram, yang selanjutnya diberitakan media massa.

Liputan media massa ini juga dapat menjadi umpan-balik positif untuk gerakan: orang yang sebelumnya menganggap remeh gerakan facebook berubah menjadi menganggap penting karena diliput oleh media massa. Reputasi gerakan menjadi naik karena mendapat liputan media massa yang tidak mudah diperoleh; reputasi naik karena ada sinyal bahwa gerakan telah berhasil melakukan sesuatu yang sulit, yaitu menarik perhatian media massa.

Khusus untuk gerakan mendukung KPK ini, sejak awal peran media di Internet relatif besar. Situs berita detik.com memberitakan grup facebook ini sejak anggotanya masih 164 orang. Jadi sangat mungkin grup tersebut menjadi besar dengan cepat karena orang membaca beritanya di detik.com dan lalu menyebar melalui jejaring pertemanan di facebook. Jadi, dalam hal ini, proses membesarnya terjadi akibat kombinasi dari pengaruh media Internet dan proses difusi di jejaring sosial.

Ini menggambarkan bagaimana aktivisme di Internet dapat menghasilkan sebuah kelompok pendukung dan penekan yang, dengan bantuan media massa, mampu menghasilkan perubahan nyata. Meski demikian, fakta membuktikan sekalipun media massa tidak meneruskan sinyal protes dari Internet ke khalayak ramai, gerakan sosial dapat terus berjalan.

Selain untuk membentuk kelompok penekan maya, kita juga dapat menggunakan Internet sebagai alat untuk mengorganisasi gerakan sosial nyata di lapangan. Inilah yang dilakukan Barack Obama, baik ketika kampanye maupun sekarang setelah menjadi presiden AS, saat ia melakukan mobilisasi massa untuk mendukung kebijakan-kebijakannya.

Grup di facebook, dapat menarik orang-orang yang memiliki kesamaan pandangan dari berbagai kota di seluruh Indonesia. Setelah grup menjadi besar dan anggotanya aktif berbagi pendapat, kita dapat mengkategorisasi anggota berdasarkan lokasi tempat tinggal. Selanjutnya kita membantu mereka membentuk kelompok-kelompok lokal sendiri yang bergerak dan membuat aksi di lokalitas masing-masing sehingga memobilisasi mereka yang tak terkoneksi ke Internet.

Aktivis yang melakukan aksi di berbagai tempat ini dapat menggunakan Internet untuk saling bertukar informasi sehingga mereka dapat belajar satu sama lain dan juga saling bertukar cerita melalui tulisan dan video yang membuat semangat tetap tinggi. Tentunya menggunakan internet sebagai alat pengorganisasian perlu strategi dan tim yang lebih lengkap dibandingkan menggunakan internet sebagai ajang curah pendapat dan emosi kolektif.

Yang pasti Internet telah menjadi salah satu alat aktivisme; Internet dapat mempermudah seseorang menjadi aktivis; Internet dapat dipakai untuk mengelola dukungan untuk sebuah aktivisme. Ini semua dapat berujung pada partisipasi publik yang semakin besar dan memperkuat demokrasi di Indonesia dengan memberikan kekuatan tambahan bagi rakyat, terutama saat penguasa tidak mau mendengar rakyat.

Strategic Lawsuit Against Public Participation (SLAPP)                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Seperti hukum keseimbangan, gerakan sosial melalui facebook yang mudah dan efektif ini ternyata memiliki lawan yang cukup tangguh. Terutama jika gerakan sosial ini berkaitan dengan permasalahan personal konsumen melawan suatu lembaga produsen. Sebagai contoh, kasus yang terjadi pada Prita Mulyasari. Derasanya gerakan dukungan Koin untuk Prita ternyata tak menyurutkan lawannya untuk menyerang balik. Gugatan Prita terhadapa RS OMNI di balas dengan gugatan balik dari pasal pencemaran nama baik, fitnah hingga UU ITE.

Dalam praktik hukum, ternyata stategi serangan balik sudah basi. Meski demikian, jurus ini ampuh membela diri dan target serangan tepat mengenai jantung pertahanan masyarakat. Di Amerika Serikat strategi ini dikenal dengan istilah Strategic Lawsuit Against Public Participation (SLAPP). Secara bebas, SLAPP bisa berarti gugatan ‘mematikan’ untuk melawan partisipasi publik. Partisipasi publik tersebut adalah masyarakat yang menuntut hak-haknya.

Dalam praktek hukum di Amerika Serikat, SLAPP digunakan produsen dengan tujuan menyensor, mengintimidasi, dan menghentikan kritikan masyarakat terhadap produk yang beredar di masyarakat.

Produsen tidak ada niat untuk memenangkan gugatan balik tersebut. Target metode SLAPP ini yaitu konsumen merasa takut, terintimidasi dan lelah dalam mengikuti proses hukum. Bahkan jika perlu, akibat efek SLAPP, konsumen meninggal selama proses hukum.

Istilah ini muncul pada tahun 1980 oleh Profesor Penelope Canan dan George W Pring dari University of Denver. Lantas strategi ini menyebar ke dalam praktik hukum di berbagai negara bagian di AS hingga ke Kanada. Namun, guna melindungi masyarakat dari jurus mabok produsen, pemerintah berbagai negara bagian membuat Protection of Public Participation Act (PPPA) atau UU Perlindungan Partisipasi Publik. Jurus SLAPP ini pernah diterapkan dalam kasus Prita Mulyasari. Mereka mencoba membungkam Prita dengan berbagai cara, salah satunya memasukan Prita ke penjara. Targetnya bukan Prita, tetapi agar masyarakat berhenti mengritik rumah sakit. Kasus serupa juga dialami Feri Kuntoro dengan PT Colibri Networks sebagai penyedia layanan konten atau content provider (CP) melaporkan balik ke polisi yaitu konsumen yang menuduhnya PT Colibri mencuri pulsa. PT Colibri melaporkan balik dengan pasal fitnah dan pencemaran nama baik. Selain itu, ada juga kasus penumpang Lion Air bernama De Neve Mizan Allan menggugat Lion Air karena mengembalikan tiket (refund) secara sepihak. Namun, pihak Lion Air berkelit. Menurutnya, justru Mizan Allan yang terlambat sampai-sampai pesawat tertunda hingga 20 menit dari jadwal semula. Malah Lion Air mengaku harus membeli avtur tambahan serta menambah biaya operasional. Biaya inilah yang oleh Lion Air dibebankan ke penggugat tersebut.

Zald & Useem (1982 : 1) dalam Sztompka (2007) menyatakan, pada tingkat hubungan sosial yang ruwet akan terlihat suatu fenomena menonjol. Terutama akan diketahui kaitan antar gerakan dan gerakan tandingan dalam konflik longgar yang saling merangsang dan memperkuat kualitasnya. Lebih tepatnya : tiap gerakan menciptakan kondisi untuk memobilisasi gerakan tandingan. Dengan menganjurkan perubahan, menyerang kepentingan yang sudah mapan, memobilisasi symbol-simbol dan meningkatkan biaya pihak lain, gerakan menciptakan keluhan dan menyediakan peluang munculnya upaya gerakan tandingan. Gerakan tandingan mengembangkan citra yang diputar balik tentang gerakan yang ditandinginya. Gerakan ini mendapat kekuatan untuk berkembang dengan mempertontonkan segala pengaruh membahayakan dari gerakan yang ditandinginya. Taktik demikian sengaja dipilih untuk merespon struktur dan untuk menghadapi gerakan yang ditandinginy

KESIMPULAN

Perkembangan pesat bidang teknologi informasi membawa dampak terhadap gerakan sosial. Kesimpulan yang dapat diambil adalah :

  1. Komunikasi merupakan kunci dalam gerakan sosial. Melalui facebook, komunikasi dapat dilakukan secara interaktif dalam lingkup yang luas sangat membantu dalam pembahasan isu gerakan
  2. Gerakan sosial melalui facebook dapat dilakukan dengan cepat dan mudah. Cepat karena interaksi langsung dalam lingkup yang luas. Mudah karena diawali tanpa dengan pergerakan massa secara nyata yang memiliki arti strategis bagi kelangsungan gerakan
  3. Kekuatan isu dalam gerakan social melalu facebook berpengaruh pada besar kecilnya gerakan dan keberlanjutannya
  4. Pemimpin dalam gerakan social melalui facebook berfungsi sebagai inisiator, bisa dilakukan oleh siapa saja. Kekuatan pemimpin dipengaruhi oleh kekuatan isu yang dibawa.
  5. Kelemahan gerakan social ini adalah hanya bisa dilakukan oleh orang yang memiliki akun facebook dan selalu memanfaatkannya. Untuk memperkuat isu bagi gerakan ini perlu dukungan dari media massa yang lain, meskipun tidak selalu.
  6. Strategic Lawsuit Against Public Participation (SLAPP) perlu diwaspadai dalam menjalankan gerakan social melalui facebook, terutama jika berhadapan dengan pihak produsen (pemilik modal). Ancaman ini perlu di tangkal dengan penerbitan undang-undang partisipasi public oleh pemerintah.

 oleh : Wahyu Tejo K GPU

DAFTAR PUSTAKA

 Rogers, Everett M. 1986. Difusi Inovasi. Penyebaran Ide-ide Baru ke Masyarakat.

Situmorang, Abdul Wahib. 2007. Gerakan Sosial. Studi Kasus Beberapa Perlawanan. Pustaka Pelajar. Yogyakarta.

Sztompka, Piotr. 2007. Sosiologi Perubahan Sosial. Prenada. Jakarta

Attayaya. 2011. Gerakan Sosial melalui Online Social. http://www.attayaya.net/2011/04/gerakan-sosial-melalui-online-social.html

Herawan, PR. 2011. Analisis Isu dan Teknik Penulisan. http://bahasa.kompasiana.com/2011/03/20/analisis-isu-dan-teknik-penulisan/

Iswinarto, 2008. Gerakan Sosial : Studi Kasus Gerakan Lingkungan Hidup di Amerika Serikat. http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2008/10/gerakan-sosial-studi-kasus-gerakan.html

Muhamad, Roby. 2011. Gerakan Sosial Digital. http://ahmadsamantho.wordpress.com/2011/11/01/gerakan-sosial-digital/

Saputra, Andi. 2011. Jurus Mabok Produsen, Gugat Balik Masyarakat Hingga Takut dan Diam !. Kolom detiknews. detik.com

———–, 2011. Jejaring Sosial Terobosan Baru Pergerakan Online

http://www.bertuah.org/2011/03/jejaring-sosial-terobosan-baru-pergerakan-sosial-online.htm

———–, 2011. Media Baru, Gerakan Sosial dan Perubahan

http://media.kompasiana.com/new-media/2011/02/02/media-baru-gerakan-sosial-dan-perubahan/

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: