Institusionalisasi Upacara Pernikahan Adat Betawi sebagai Sebuah Lembaga Sosial Masyarakat Betawi

 

I.       PENDAHULUAN

A.            Latar Belakang

Kehidupan berkeluarga terjadi lewat pernikahan yang sah baik menurut hukum agama maupun ketentuan perundang-undangan yang berlaku, sehingga tercipta suatu kehidupan yang harmonis, tentram, dan sejahtera lahir batin. Pernikahan merupakan cara untuk memelihara dan melestarikan keturunan. Indonesia adalah negara kepulauan yang terletak pada garis khatulistiwa, dengan penduduk yang tinggal di pulau-pulau yang beraneka ragam adat budaya dan hukum adatnya. Hampir seluruh masyarakat adat menempatkan masalah pernikahan sebagai urusan keluarga dan mayarakat, pernikahan tidaklah semata-mata urusan pribadi yang melakukannya.

Adat istiadat pernikahan suatu daerah selain memuat aturan-aturan dengan siapa seseorang boleh melakukan pernikahan, berisi tata cara dan tahapan yang harus dilalui oleh pasangan pengantin dan pihak-pihak yang terlibat didalamnya sehingga pernikahan ini dapat pengabsahan dari masyarakat. Tata cara rangkaian adat pernikahan itu terangkat dalam suatu rentetan kegiatan upacara pernikahan. Upacara itu sendiri diartikan sebagai tingkah laku resmi yang dibukukan untuk peristiwa-peristiwa yang tidak ditujukan pada kegiatan teknis sehari-hari, akan tetapi mempunyai kaitan dengan kepercayaan diluar kekuasaan manusia. Oleh karena itu dalam setiap uacara pernikahan kedua mempelai ditampilkan secara istimewa, dilengkapi tata rias wajah, tata rias sanggul, serta tata rias busana yang lengkap dengan berbagai adat istiadat sebelum pernikahan dan sesudahnya.

Masyarakat Betawi adalah suatu masyarakat yang mendiami daerah Jakarta. Wilayah Daerah Khusus Ibukota Jakarta mempunyai luas  661,52 km² (lautan  6.977,5 km²) dengan jumlah penduduk 9.588.198 jiwa (data BPS tahun 2010) berada pada 6-7 derajat LS dan 107-108 derajat BT. Sebagai kota metropolitan, Jakarta merupakan tempat perpaduan adat istiadat, gagasan-gagasan baik antar suku maupun bangsa. Sebagai sebuah kota dagang yang ramai, “Sunda Kelapa” nama Jakarta tempo dulu disinggahi  berbagai suku bangsa. Budaya Arab, India, Cina, Sunda, Jawa, Eropa, dan Melayu berbaur menjadi bagian dari karakteristik kebudayaan Betawi yang kita kenal sekarang ini. Salah satu wujud produk yang sampai saat ini dipeli;phara dan dikembangkan adalah adat dan upacara pernikahan Betawi.

Pernikahan merupakan suatu prosesi yang sakral bagi kebanyakan orang. Tradisi pernikahan di kalangan masyarakat Betawi dilakukan melalui beberapa tahap, yaitu tahap sebelum pernikahan, saat pelaksanaan pernikahan dan sesudah pelaksanaan pernikahan. Acara yang dilakukan sebelum pernikahan seperti peminangan. Peminangan dalam masyarakat Betawi dianggap sesuatu hal yang sangat penting, oleh karena itu harus melalui beberapa tahap yaitu : tahap ngelancong dan tahap ngelamar. Sedangkan yang dilakukan dalam acara pelaksanaan pernikahan terdiri dari akad nikah, seserahan, pesta pernikahan, dan upacara sesudah pernikahan malam negor, ngambil (mengambil) tiga hari, dan pesta di rumah pengantin laki-laki.

Semakin sulit menemukan masyarakat asli Betawi yang biasa menjadi “jawara” dalam prosesi “Buka Palang Pintu”, saat ini pernikahan adat Betawi yang unik itu sudah sulit ditemui. Kebanyakan orang bahkan orang Betawi sekalipun sudah jarang melakukan prosesi pernikahan seperti itu. Hal tersebut mengakibatkan upacara pernikahan adat Betawi menunjukkan beberapa perubahan dan pengembangan. Perubahan dan pengembangan tersebut antara lain mengenai adat kebiasaan sebelum pernikahan dan alat atau bahan kelengkapan upacara yang digunakan. Perubahan tersebut sifatnya umum sedangkan nilai-nilai hakiki yang terkandung didalam upacara pernikahan itu sendiri tetap berlangsung sesuai dengan tradisi masyarakat Betawi. Untuk itulah diperlukan suatu lembaga yang digunakan masyarakat Betawi sebagai wadah informasi dan dapat memfasilitasi pemenuhuan kebutuhan masyarakat termasuk terhadap kelengkapan prosesi upacara pernikahan adat Betawi.;

B.            Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka permasalahan yang  perlu dibahas adalah “bagaimana upacara pernikahan adat Betawi menjadi sebuah lembaga sosial masyarakat Betawi”.

C.            Tujuan Penulisan

Dalam penulisan makalah ini, tujuan yang ingin dicapai adalah untuk mengetahui dan menganalisa proses penginstitusionalisasikan upacara pernikahan adat Betawi sebagai lembaga sosial masyarakat Betawi.

II.    TINJAUAN PUSTAKA

A.      Pernikahan Adat Betawi

Pernikahan adalah upacara pengikatan janji nikah yang dirayakan atau dilaksanakan oleh dua orang dengan maksud meresmikan ikatan perkawinan secara norma agamanorma hukum (Undang-undang No 1 Tahun 1974), dan norma sosial budaya. Upacara pernikahan memiliki banyak ragam dan variasi menurut tradisi suku bangsa, agama, budaya maupun kelas sosial. Penggunaan adat atau aturan tertentu kadang-kadang berkaitan dengan aturan atau hukum agama tertentu pula.

Pengesahan secara hukum suatu pernikahan biasanya terjadi pada saat dokumen tertulis yang mencatatkan pernikahan ditandatangani. Upacara pernikahansendiri biasanya merupakan acara yang dilangsungkan untuk melakukan upacara berdasarkan adat-istiadat yang berlaku, dan kesempatan untuk merayakan bersama teman dan keluarga. Wanita dan pria yang sedang melangsungkan pernikahan dinamakan pengantin, setelah upacaranya selesai mereka syah sebagai suami istri.

Sistem pernikahan pada masyarakat Betawi pada dasarnya mengikuti hukum Islam. Dalam mencari jodoh, baik pemuda maupun pemudi betawi bebas memilih teman hidup mereka sendiri. Karena kesempatan untuk bertemu dengan calon kawan hidup itu tidak terbatas dalam desanya, maka banyak perkawinan pemuda pemudi desa Betawi terjadi dengan orang dari lain desa. Namun demikian, persetujuan orangtua kedua belah pihak sangat penting, karena orangtualah yang akan membantu terlaksanakannya pernikahan tersebut. Biasanya prosedur yang ditempuh sebelum terlaksananya pernikahan adat adalah dengan perkenalan langsung antara pemuda dan pemudi. Bila sudah ada kecocokan, orangtua pemuda lalu melamar ke orangtua si gadis.

Berikut ini tahapan dalam pernikahan adat Betawi yang perlu kita ketahui, antara lain :

1)       Ngedelengin (masa perkenalan sebelum pernikahan) artinya upaya menemukan kecocokan antara calon suami  istri. Setelah dirasa cocok, dilanjutkan dengan lamaran.

2)       Ngelamar, adalah pernyataan dan permintaan resmi dari pihak keluarga laki-laki  untuk melamar wanita kepada pihak keluarga wanita. Ketika itu juga keluarga pihak laki-laki mendapat jawaban persetujuan atau penolakan atas maksud tersebut.

3)       Bawa tande putus, dalam adat betawi memberikan bentuk cincin belah rotan sebagai tanda putus. Tande putus artinya bahwa wanita tersebut telah terikat dan tidak lagi dapat diganggu gugat oleh pihak lain walaupun pelaksanaan tande putus dilakukan jauh sebelum pelaksanaan acara akad nikah.

4)       Akad nikah adalah syarat ketentuan dalam Islam, terpenuhinya rukun nikah terdiri dari adanya mempelai laki dan perempuan, adanya wali, dua saksi dan akad nikah itu sendiri. Sebelum diadakan akad nikah secara adat, terlebih dahulu harus dilakukan rangkaian pra akad nikah terdiri dari : masa dipiare, acara mandiin calon pengantin wanita dilanjutkan acara tangas, dan acara ngerik atau malem pacar. Setelah rangkaian tersebut dilaksanakan, masuklah pada pelaksanaan akad nikah.

5)       Buka talang pintu, berupa berbalas pantun dan adu silat antara wakil dari keluarga pria dan wakil dari keluarga wanita. Prosesi tersebut dimaksudkan sebagai ujian bagi mempelai pria sebelum diterima sebagai calon suami yang akan menjadi pelindung bagi mempelai wanita sang pujaan hati.

B.      Lembaga Sosial

Lembaga kemasyarakatan merupakan terjemahan langsung dari istilah sosial institution (lembaga sosial), juga diterjemahkan sebagai pranata sosial. Hal ini dikarenakan sosial institution merujuk pada perlakuan mengatur perilaku masyarakat. Pendapat para tokoh tentang definisi lembaga sosial antara lain :

1)       Koentjaraningrat (1987) mengatakan pranata  sosial adalah suatu sistem tata kelakuan dan hubungan yang berpusat kepada aktivitas sosial untuk memenuhi kompleks-kompleks kebutuhan khusus dalam kehidupan masyarakat.

2)       Menurut Robert Mac Iver dan Charles H. Page (1957),  lembaga sosial adalah prosedur atau tata cara yang telah diciptakan untuk mengatur hubungan antar manusia yang tergabung dalam suatu kelompok masyarakat.

3)       Menurut Soerjono Soekanto(1990), pranata sosial adalah himpunan norma-norma dari segala tingkatan yang berkisar pada suatu kebutuhan pokok dalam kehidupan masyarakat.

Pengertian lembaga selain dalam menunjuk pada sesuatu bentuk, juga mengandung pengertian yang abstraks perihal adanya norma-norma dan peraturan tertentu yang menjadi ciri lembaga tersebut. Norma-norma tersebut, apabila diwujudkan dalam hubungan antar manusia dinamakan organisasi sosial. Untuk memberikan suatu batasan, lembaga kemasyarakatan merupakan himpunan norma-norma segala tingkatan yang berkisar pada suatu kebutuhan pokok dalam kehidupan masyarakat. wujud kongkrit lembaga kemasyarakatan adalah asosiasi (association). Sebagai contoh, universitas merupakan lembaga kemasyarakatan, sedang Universitas Sebelas Maret (UNS), Universitas Indonesia, dan Universitas Gadjah Mada adalah contoh asosiasi.

Menurut Soekanto (1990) lembaga sosial atau kemasyarakatan yang bertujuan memenuhi kebutuhan pokok manusia pada dasarnya memiliki fungsi :

1)       Memberikan pedoman pada masyarakat, bagaimana mereka harus bersikap atau bertingkah laku dalam menghadapi masalah-masalah di masyarakat, terutama yang menyangkut pemenuhan kebutuhan.

2)       Menjaga keutuhan masyarakat.

3)       Memberikan pengarahan kepada masyarakat untuk mengadakan sistem pengendalian sosial, yaitu sistem pengawasan masyarakat terhadap anggota-anggotanya.

Menurut Horton dan Hunt dalam Lestari (2012), fungsi lembaga sosial adalah :

1)       Fungsi Manifes atau fungsi nyata yaitu fungsi lembaga yang disadari dan diakui oleh seluruh masyarakat (keluarga harus memelihara anak, sekolah harus mendidik anak).

2)       Fungsi Laten atau fungsi terselubung yaitu fungsi lembaga sosial yang tidak di sadari atau bahkan tidak di kehendaki atau jika di ikuti dianggap segagai hasil sampingan dan biasanya tidak dapat diramalkan (perkembangan ekonomi yang menimbulkan kesenjangan yang lebar antara si kaya dan si miskin). Fungsi laten lembaga ada tiga kemungkinan, yaitu : (a) mendukung fungsi manifes; (b) tidak relevan dengan fungsi manifes; dan (c) merongrong fungsi manifes.

Menurut Sztompka (2010) ada empat jenis ikatan yang muncul dalam masyarakat dan saling berkaitan, tergantung pada jenis kesatuan yang dipersatukan oleh jaringan hubungan tersebut yaitu ikatan : 1) gagasan; 2) normatif; 3) tindakan; dan 4) perhatian. Jaringan hubugan gagasan (keyakinan, pendirian dan pengertian), merupakan dimensi ideal dari kehidupan bersama yakni “kesadaran sosialnya”. Jaringan hubungan aturan (norma, nilai, ketentuan dan cita-cita), merupakan dimensi normatif dari kehidupan bersama yakni “institusi sosialnya”. Dimensi ideal dan normatif mempengaruhi apa yang secara tradisional dikenal sebagai kebudayaan. Jaringan hubungan tindakan merupakan dimensi interaksi dalam kehidupan bersama yakni “organisasi sosialnya”. Jaringan hubungan perhatian (peluang hidup, kesempatan, akses terhadap sumberdaya) adalah dimensi kesempatan kehidupan bersama, yakni “hierarki sosialnya”.

C.      Proses Pertumbuhan Lembaga Sosial

Timbulnya lembaga sosial dapat terjadi melalui dua cara yaitu :

(1)     Secara tidak terencana, lembaga itu lahir secara bertahap dalam kehidupan masyarakat, biasanya hal ini terjadi ketika masyarakat dihadapkan pada masalah atau yang berhubungan  dengan pemenuhan kebutuhan hidup  yang sangat penting.

(2)     Secara terencana maksudnya adalah lembaga muncul melalui suatu proses perncanaan yang matang yang diatur oleh seseorang atau kelompok orang yang memiliki kekuasaan dan wewenang. Proses terbentuknya  lembaga sosial berawal dari individu yang saling membutuhkan . Saling membutuhkan ini berjalan dengan baik kemudian timbul aturan  yang disebut norma kemasyarakatan. Norma kemasyarakatan dapat berjalan baik apabila terbentuk  lembaga sosial.

Menurut Soekanto, Soerjono (2010) terbentuknya lembaga sosial bermula dari kebutuhan masyarakat akan keteraturan kehidupan bersama. Lembaga sosial tumbuh karena manusia dalam hidupnya memerlukan keteraturan. Untuk mendapatkan keteraturan hidup bersama dirumuskan norma-norma dalam masyarakat sebagai paduan bertingkah laku. Mula-mula sejumlah norma tersebut terbentuk secara tidak disengaja. Namun, lama-kelamaan norma tersebut dibuat secara sadar. Untuk dapat membedakan kekuatan mengikat norma-norma tersebut secara sosiologis dikenal ada empat pengertian yaitu :   (1) Cara (usages); (2) Kebiasaan (folkways); (3) Tata kelakuan (mores); dan (4) Adat istiadat (custom).

Sejumlah norma-norma ini kemudian disebut sebagai lembaga sosial. Namun tidak semua norma-norma yang ada dalam masyarakat merupakan lembaga sosial karena untuk menjadi sebuah lembaga sosial sekumpulan norma mengalami proses yang panjang. Menurut Robert M.Z. Lawang (1985) proses tersebut dinamakan pelembagaan (institutionalized) yaitu proses bagaimana suatu perilaku menjadi berpola atau bagaimana suatu pola perilaku yang mapan itu terjadi. Dengan kata lain, pelembagaan adalah suatu proses berjalan dan terujinya sebuah kebiasaan dalam masyarakat menjadi institusi/lembaga yang akhirnya harus menjadi paduan dalam kehidupan bersama. Menurut Soekanto (1990) suatu norma tertentu telah melembaga (institutionalized) apabila norma tersebut : 1) diketahui; 2) dipahami atau dimengerti; 3) ditaati; dan 4) dihargai.

Keberhasilan proses institusionalisasi dalam masyarakat dilihat jika norma-norma kemasyarakatan tidak hanya menjadi terlembaga dalam masyarakat, akan tetapi menjadi terpatri dalam diri secara sukarela (internalized) dimana masyarakat dengan sendirinya ingin berkelakuan sejalan dengan pemenuhan kebutuhan masyarakat lembaga sosial umumnya didirikan berdasarkan nilai dan norma dalam masyarakat, untuk mewujudkan nilai sosial, masyarakat menciptakan aturan-aturan yang disebut norma sosial yang membatasi perilaku manusia dalam kehidupan bersama. Sekumpulan norma akan membentuk suatu sistem norma. Inilah awalnya lembaga sosial terbentuk. Sekumpulan nilai dan norma yang telah mengalami proses penerapan ke dalam institusi atau institutionalization menghasilkan lembaga sosial.

Menurut Gillin dan Gillin (1954) ada beberapa tipe lembaga dilihat dari berbagai sudut pandang :

1)       Dilihat dari perkembangannya, meliputi :

a)    Crescive Institution, lembaga paling primer merupakan lembaga sosial yang tidak sengaja dibentuk dan tumbuh dari adat istiadat masyarakat. Contoh : pranata perkawinan, pranata hak milik dan pranata agama.

b)   Enacted Institution, lembaga sosial yang sengaja dibentuk untuk mencapai tujuan tertentu. Contoh : Lembaga pendidikan, dan lembaga ekonomi.

2)       Dilihat dari sistem nilai yang diterima masyarakat meliputi :

a)    Basic Institution, lembaga sosial yang sangat penting untuk memelihara dan mempertahankan tata tertib dalam masyarakat. Contoh : Keluarga, dan sekolah.

b)   Subsidiary Institutio, lembaga sosial yang berkaitan dengan hal yang dipandang masyarakat kurang penting. Contoh : kegiatan rekreasi dan hiburan

3)       Dilihat dari penerimaan masyarakat  meliputi :

a)    Approved/Social Sanctioned Institution, lembaga sosial yang diterima oleh masyarakat. Contoh: Sekolah dan perusahaan dagang.

b)   Unsanctioned Institution, lembaga sosial yang ditolak oleh masyarakat, meskipun masyarakat tidak bisa memberantasnya. Contoh: kelompok preman, geng, kelompok pengemis, kelompok mafia.

4)       Dari faktor penyebarannya meliputi :

a)    General Institution, lembaga yang dikenal oleh sebagian besar masyarakat dunia.

b)   Restrected Institution, lembaga sosial yang dikenal oleh masyarakat tertentu saja.

5)       Dari sudut fungsinya, meliputi :

a)    Operative Institutions, berfungsi sebagai lembaga yang menghimpun pola-pola atau tata cara yang diperlukan untuk mencapai tujuan lembaga yang bersangkutan, seperti lembaga industrialisasi.

b)   Regulative Institutions, bertujuan untuk mengawasi adat istiadat atau tata kelakuan yang yang tidak menjadi bagian mutlak lembaga itu sendiri. Contoh : lembaga-lembaga hukum seperti kejaksaan, dan pengadilan.

Cara-cara pendekatan atau mempelajari lembaga kemasyarakatan dapat dirinci ke dalam : 1) Analisis historis; 2) Analisis komparatif; dan 3) Analisis hubungan antara lembaga-lembaga kemasyarakatan yang terdapat dalam suatu masyarakat tertentu.

III.     PEMBAHASAN

A.      Institusionalisasi Upacara Pernikahan Adat Betawi Sebagai Sebuah Institusi Sosial Masyarakat Betawi

Menurut Soekanto (1990) suatu norma tertentu telah melembaga (institutionalized) apabila norma tersebut : 1) diketahui; 2) dipahami atau dimengerti; 3) ditaati; dan 4) dihargai. Demikian hanlnya dengan upacara pernikahan adat Betawi sebagai institusionalisasi norma perkawinan masyarakat Betawi. Upacara pernikahan adalah upacara adat yang diselenggarakan dalam rangka menyambut peristiwa pernikahan, dan pernikahan adalah upacara pengikatan janji nikah yang dirayakan atau dilaksanakan oleh dua orang dengan maksud meresmikan ikatan perkawinan secara norma agamanorma hukum, dan norma sosial budaya. Upacara pernikahan memiliki banyak ragam dan variasi menurut tradisi suku bangsaagamabudaya, maupun kelas sosial. Penggunaan adat atau aturan tertentu kadang-kadang berkaitan dengan aturan atau hukum agama tertentu pula.

Dalam pernikahan adat Betawi, seseorang yang ingin mengawini seorang gadis harus menempuh beberapa tahapan. Adapun tahapan-tahapannya sebagai berikut :

1.       Ngedelengin

Yaitu masa perkenalan melalui mak comblang dan merupakan upaya menemukan kecocokan antara calon suami dan calon istri. Setelah dirasa cocok, dilanjutkan dengan lamaran. Ngedelengin bisa dilakukan beberapa kali dan dalam jangka waktu bervariasi mulai dari satu atau dua bulan sampai satu tahun. Hal ini sedikit banyak tergantung pada kesigapan si gadis menghadapi jenjang pernikahan. Namun seiring dengan kemajuan jaman, fungsi mak comblang dan proses ngedelengin sudah jarang diperlukan. Pasalnya, si pria sudah bisa menemukan tambatan hati sendiri, sekaligus memiliki kesanggupan untuk menentukan pilihannya untuk menuju mahligai perkawinan.

2.   Ngelamar

Ngelamar merupakan pernyataan dan permintaan resmi dari pihak keluarga laki-laki  untuk melamar wanita kepada pihak keluarga wanita. Ketika itu juga keluarga pihak laki-laki mendapat jawaban persetujuan atau penolakan atas maksud tersebut. Ngelamar dilakukan oleh beberapa orang utusan yang disertai dengan membawa sejumlah barang bawaan wajib seperti uang sembah lamaran, baju atau bahan pakaian wanita, serta beberapa perlengkapan melamar lainnya. Setelah Ngelamar selesai, acara yang sangat menentukan pun dilanjutkan yakni membicarakan masalah mas kawin, uang belanja, plangkah (kalau calon mendahului kakaknya), dan kekudang (makanan kesukaan calon mempelai wanita). Apabila bawa tande putus telah disepakati, maka dilanjutkan dengan pembicaraan yang lebih rinci perihal apa dan berapa banyak tande putus serta segala hal yang berkaitan dengan acara pernikahan.

3.   Bawa Tande Putus

Acara ini hampir mirip dengan acara pertunangan. Tande putus bisa berupa apa saja, namun orang Betawi biasanya memberikan tande putus berupa cincin belah rotan, uang pesalin sekadarnya, serta aneka rupa kue. Tande putus ini sendiri artinya si gadis atau calon none mantu telah terikat dan tidak dapat lagi diganggu oleh pihak lain. Begitu pula dengan calon tuan mantu atau si pemuda. Setelah tande putus diserahkan, maka berlanjut dengan menentukan tanggal dan hari pernikahan.

4.   Akad Nikah

Akad nikah adalah syarat ketentuan dalam Islam, terpenuhinya rukun nikah terdiri dari adanya mempelai laki dan perempuan, adanya wali, dua saksi dan akad nikah itu sendiri. Sebelum diadakan akad nikah secara adat, terlebih dahulu harus dilakukan rangkaian pra akad nikah terdiri dari :

a)       Masa dipiare. Setelah pembicaraan persiapan pernikahan selesai, calon pengantin wanita akan dipiare (dipelihara) oleh tukang piare. Tujuannya yaitu untuk mengontrol kegiatan, kesehatan dan memelihara kecantikan calon none mantu menghadapi pernikahan. Selain perawatan fisik, juga dilengkapi program diet dengan pantangan makanan tertentu untuk menjaga berat tubuh ideal calon mempelai wanita.

b)      Acara mandiin (siraman), ditangas, dan acara ngerik atau malem pacar. Acara siraman atau memandikan calon mempelai wanita diadakan sehari sebelum akad nikah dan biasanya diawali dengan pengajian. Setelah acara siraman, calon mempelai wanita menjalani upacara tangas (semacam mandi uap). Perawatan dimaksudkan untuk menghaluskan dan mengharumkan kulit tubuh sekaligus mengurangi keringat pada saat hari pernikahan. Berikutnya adalah prosesi ngerik atau mencukur bulu kalong dan membuatkan centung pada rambut di kedua sisi pipi di depan telinga. Kemudian dilanjutkan dengan malem pacar, malam dimana mempelai wanita memerahkan kuku kaki dan tangannya dengan pacar atau henna (mehndi).

Puncak upacara penikahan adat Betawi adalah akad nikah. Meriah dan penuh warna-warni, demikian gambaran dari tradisi pernikahan adat Betawi menjelang akad nikah. Diiringi suara petasan, rombongan keluarga mempelai pria berjalan memasuki depan rumah kediaman mempelai wanita sambil diiringi oleh ondel-ondel, tanjidor atau marawis (rombongan pemain rebana yang menyanyikan lagu berbahasa Arab). Diikuti  barisan sejumlah kerabat sanak saudara menuju rumah calon mempelai wanita dengan membawa hantaran , rombongan mempelai pria membawa hantaran berupa :

(1)     Sirih, gambir, pala, kapur dan pinang. Artinya segala pahit, getir, manisnya kehidupan rumah tangga harus dijalani bersama antara suami istri.

(2)     Maket Masjid, agar tidak lupa pada agama, menjalani ibadah shalat dan mengaji.

(3)     Kekudang, berupa makanan kesukaan mempelai wanita misalnya salak condet, jamblang, dan sebagainya.

(4)     Mahar atau mas kawin.

(5)     Pesalinan berupa pakaian wanita seperti kebaya encim, kain batik, lasem, kosmetik dan pakaian dalam. Yang menujukkan kemandirian dan keseriusan sang calon mempelai pria pada calon mempelai wanita.

(6)     Sepasang roti buaya dengan anaknya. Buaya merupakan pasangan yang abadi dan tidak berpoligami serta selalu mencari makan bersama-sama. Roti Buaya merupakan simbol kesetiaan berumah tangga sampai beranak cucu, di mana diharapkan sang pengantin saling setia seperti buaya yang hanya kawin sekali seumur hidup. Selain itu, roti memiliki makna sebagai lambang kemapanan, karena ada anggapan bahwa roti merupakan makanan orang golongan atas. Pada saat selesai akad nikah, biasanya roti buaya ini diberikan pada saudara yang belum nikah, hal ini juga memiliki harapan agar mereka yang belum menikah bisa ketularan dan segera mendapatkan jodoh.

(7)     Petisie yang berisi sayur mayur atau bahan mentah untuk pesta, misalnya wortel, kentang, telur asin, bihun, buncis dan sebagainya.

(8)     Maket rumah dari uang, sebagai simbol kemandirian si calon mempelai pria untuk membangun rumah tangga bersama si calon mempelai wanita.

Selain itu, perlengkapan kamar pengantin yang berat seperti tempat tidur serta lemari juga dibawa dalam prosesi arak-arakkan.

5.   Buka Talang Pintu

Berupa berbalas pantun dan adu silat antara wakil dari keluarga pria dan wakil dari keluarga wanita. Prosesi tersebut dimaksudkan sebagai ujian bagi mempelai pria sebelum diterima sebagai calon suami yang akan menjadi pelindung bagi mempelai wanita sang pujaan hati. Uniknya, dalam setiap petarungan silat, jago dari pihak mempelai wanita pasti dikalahkan oleh jagoan mempelai pria. Maksud prosesi ini sendiri adalah memberikan sejumlah syarat kepada calon mempelai pria sebelum  diterima oleh pihak si gadis. Syaratnya, keluarga si pria harus pandai ‘bekelai’ dan ‘ngaji’. Tujuannya agar si pria mampu melindungi dan menjadi pemimpin agama buat keluarganya kelak.

Berikut penggalan pantun sleperti yang kerap dilakukan dalam prosesi Buka Palang Pintu berlangsung diwakili oleh pihak pengantin Perempuan (P) dan pihak pengantin Laki (L) :

P  :   Eh, Bang-bang berenti, bang budeg ape luh. Eh, bang nih ape maksudnye nih, selonong-selonong di kampung orang. Emangnye lu kagak tahu kalo nih kampung ade yang punye? Eh….Bang, rumah gedongan rumah belande, pagarnya kawat tiangnya besi, gue kaga mao tau nih rombongan datengnye dari mane mau kemane, tapi lewat kampung gue kudu permisi.

L  :   Oh…jadi lewat kampung sini kudu permisi, bang?

P  :   Iye, emangnye lu kate nih tegalan.

L  :   Maafin aye bang, kalo kedatangan aye ama rombongan kage berkenan di ati sudare-sudare. Sebelomnye aye pengen ucapin dulu nih Bang. Assalamu’alaikum..

P  :   Alaikum salam..

L  :   Begini bang. Makan sekuteng di Pasar Jum’at, mampir dulu di Kramat Jati, aye dateng ama rombongan dengan segala hormat, mohon diterime dengan senang hati.

P  :   Oh, jadi lu uda niat dateng kemari. Eh Bang, kalo makan buah kenari, jangan ditelen biji-bijinye. Kalo ku udeh niat dateng kemari. Gue pengen tahu ape hajatnye?…

L  :   Oh..jadi Abang pengen tahu ape hajatnye. Emang Abang kage dikasih tau ame tuan rumehnye. Bang, ade siang ade malam, ade bulan ade matahari, kalo bukan lantaran perawan yang di dalam, kaga bakalan nih laki gue anterin ke mari.

P  :   Oh..jadi lantaran perawan Abang kemari?… Eh..Bang, kage salah Abang beli lemari, tapi sayang kage ade kuncinye, kage salah abang datang kemari, tapi sayang tuh, perawan ude ade yang punye.

L  :   Oh..jadi tuh perawan ude ade yang punye.  Eh..Bang crukcuk kuburan cine, kuburan Islam aye nyang ngajiin, biar kate tuh perawan udeh ade yang punye, tetep aje nih laki bakal jadiin.

P  :   Jadi elu kaga ngerti pengen jadiin. Eh, Bang kalo jalan lewat Kemayoran, ati-ati jalannye licin, dari pada niat lu kage kesampaian, lu pilih mati ape lu batalin.

L  :   Oh..jadi abang bekeras nih. Eh Bang ibarat baju udah kepalang basah, masak nasi udah jadi bubur, biar kate aye mati berkalang tanah, setapak kage nantinye aye bakal mundur.

P  :   Oh..jadi lu sangke kage mau mundur, ikan belut mati di tusuk, dalam kuali kudu masaknye, eh. Nih palang pintu kage ijinin lu masuk, sebelum lu penuin persaratannye.

L  :   Oh..Jadi kalo mao dapet perawan sini ade saratnye, Bang?

P  :   Ade, jadi pelayan aje ada saratnye, apa lagi perawan.

L  :   Kalo begitu, sebutin saratnye. Bang.

P  :   Lu pengen tau ape saratnye. Kude lumping dari tangerang, kedipin mate cari menantu, pasang kuping lu terang-terang, adepin dulu jago gue satu-persatu.

L  :   Oh..jadi kalo mao dapet perawan sini saratnye bekelai Bang.

P  :   Iye. Kalo lu takut, lu pulang.

L  :   Bintang seawan-awan, aye itungin beribu satu, berape banyak Abang punya jagoan, aye bakal adepin satu-persatu.

Setelah adegan perkelahian, pemain palang pintu biasanya melanjutkan dengan kembangan. Berikut adalah petikannya :

L  :   Bang, lu tau dalemnye rawe, pasti lu tau kali semanan, kalo mau tau namenye jaware, nih lu liat gue punye maenan (jalanin jurusnye ). Nih..baru kembangnye.. Bang. Ntar buahnye..

P  :   Kelape ijo ditusuk belati, naek perahu lurus jalannye, udeh banyak jago yang mati, nih jurus pukulannye, (jalanin jurusnye) kalo elu buahnye. nih bijinye..

Beradu jurus pun berakhir. Pihak pengantin lelaki keluar sebagai pemenang. Perbincangan pun dilanjutkan kembali.

L  :   Gimane Bang.rase-rasenye jagoan Abang udeh pade rontok semua nih. Ape aye ame rombongan udah boleh masuk?…Ape masih ade saratnye lagi Bang?…

P  :   Ntar dulu Bang, enak aje. Pan lu tau. Buah cereme jangan diasinin, makan nasinye di kandang kude, sarat pertame emang lu ude penuin. Tapi masih ade sarat yang kedue.

L  :   Sebutin udah bang jangan lame-lame.

P  :   Tukang lakse dagangnye malam jalannya muter ke Pasar Kranji gue minta elu jangan cume bise berantem tapi gue pengen denger lu bise ngaji.

L  :   Tumbuk ketan jadinye uli-ulinye juge kudui ditapeni betaun-taun anak kampung gue bisa ngaji lagu yang Abang minta aye bawain. Gimane Bang. soal berantem aye udah ladenin, soal ngaji abang udah dengerin ape aye ame rombongan udah boleh masuk, ape masih ade saratnye lagi, Bang?…

P  :   Cukup-cukup dah Bang. Rase-rasenye kage sie-sie aye bebesanan ame Abang soal silat Abang jago soal ngaji Abang bise soal ngaji Abang bise. Aye Cuma bisa bilang. buah mangga bukan sembarang mangga buahnye satu tulung petikin aye bangga bukan sembarang bangga mantu yang begini yang aye arepin. Ahlan washlan buat Abang. Assalamu’alaikum..

Biasanya setelah saling menantang dalam pantun, masing-masing keluarga mengeluarkan jurus ala silat Betawi. Konon, pada jaman dahulu mereka berkelahi betulan. Sekarang tentu saja perkelahian itu hanya simbol belaka. Karena pada dasarnya pihak keluarga perempuan cuma ingin melihat sejauh mana kepandaian silat si calon mempelai pria. Usai prosesi Buka Palang Pintu, mempelai pria pun diterima keluarga mempelai wanita. Selanjutnya mereka melakukan prosesi ijab dan kabul.

Dalam prosesi pernikahan ini, mempelai wanita memakai baju kurung dengan teratai dan selendang sarung songket. Kepala mempelai wanita dihias sanggul sawi asing serta kembang goyang sebanyak 5 buah, serta hiasan sepasang burung Hong. Dahi mempelai wanita diberi tanda merah berupa bulan sabit menandakan masih gadis saat menikah. Sedangkan mempelai pria memakai jas Rebet, kain sarung plakat, Hem, Jas, serta kopiah. Ditambah baju Gamis berupa Jubah Arab yang dipakai saat resepsi dimulai. Jubah, Baju Gamis, Selendang yang memanjang dari kiri ke kanan serta topi model Alpie menandai agar rumah tangga selalu rukun dan damai.

B.      Hasil Kajian

Keluarga adalah unit sosial yang terkecil dalam masyarakat. Dan institusi pertama yang dimasuki seorang manusia ketika dilahirkan. Keluarga terbentuk melalui perkawinan yang sah menurut agama, adat atau pemerintah dengan proses : (a) diawali dengan adanya interaksi antara pria dan wanita; (b) interaksi dilakukan berulang-ulang, lalu menjadi hubungan sosial yang lebih intim sehingga terjadi proses perkawinan; dan (c) setelah terjadi perkawinan, terbentuklah keturunan, kemudian terbentuklah keluarga inti.

Dari perkawinan atau pernikahan terbentuklah suatu institusi terkecil, yaitu keluarga. Dilihat dari sistem nilai yang diterima masyarakat, Gillin dan Gillin (1954) keluarga dikategorikan ke dalam Basic Institution, yaitu lembaga sosial yang sangat penting untuk memelihara dan mempertahankan tata tertib dalam masyarakat. Tujuan dari perkawinan adalah untuk mendapatkan keturunan, meningkatkan derajat dan status sosial baik pria maupun wanita, mendekatkan kembali hubungan kerabat yang sudah renggang, dan agar harta warisan tidak jatuh ke orang lain. Institusi keluarga memiliki fungsi sebagai :

(1)     Fungsi reproduksi, dalam keluarga anak-anak merupakan wujud dari cinta kasih dan tanggung jawab suami istri meneruskan keturunannya.

(2)     Fungsi sosialisasi, keluarga berperan dalam membentuk kepribadian anak agar sesuai dengan harapan orang tua dan masyarakatnya. Keluarga sebagai wahana sosialisasi primer harus mampu menerapakan nilai dan norma masyarakat melalui keteladanan  orang tua.

(3)     Fungsi afeksi, di dalam keluarga diperlukan kehangatan rasa kasih saying  dan perhatian antar anggota keluarga yang merupakan salah satu kebutuhan manusia sebagai makluk berpikir  dan bermoral (kebutuhan integratif) apabila anak kurang atau tidak mendapatkannya, kemungkinan ia sulit untuk dikendalikan nakal, bahkan dapat terjerumus dalam kejahatan.

(4)     Fungsi ekonomi, keluarga terutama orang tua mempunyai kewajiban ekonomi seluaruh keluarganya. Ibu sebagai sekretaris suami didalam keluarga harus mampu mengolah keuangan sehingga kebutuahan dalam rumah tangganya dapat dicukupi.

(5)     Fungsi pengawasan sosial, setiap anggota keluarga pada dasarnya saling melakukan control atau pengawasan karena mereka memiliki rasa tanggung jawab dalam menjaga nama baik keluarga.

(6)     Fungsi proteksi (perlindungan,  artinya fungsi perlindungan sangat diperlukan keluarga terutama anak sehingga anak merasa aman hidup ditengah-tengah keluarganya. Ia akan merasa terlindungi dari berbagai ancaman fisik mapun mental yang dating dari dalam keluarga maupun dari luar keluarganya.

(7)     Fungsi pemberian status, melalui perkawinan seseorang akan mendapatkan status atau kedudukan yang baru di masyarakat  yaitu suami atau istri. Secara otomatis mereka akan diperlakukan sebagai orang yang telah dewasa dan mampu bertanggung jawab kepada diri, keluarga, anak-anak dan masyarakatnya.

Perkawinan bagi masyarakat Betawi yang dilaksanakan melalui serangkaian prosesi upacara adat yang unik, merupakan cara untuk memelihara dan melestarikan keturunan. Dalam Syari’at Islam Allah SWT telah menetapkan aturan perkawinan yang merupakan tuntunan agama yang wajib dilaksanakan oleh semua umat-Nya. Bagi mereka yang melakukan perkawinan tidak berdasarkan ketentuan syari’at Islam, maka perkawinan akan mendapat murka Allah SWT. Menurut Gillin dan Gillin (1954) dilihat dari perkembangannya, pernikahan adat Betawi  masuk dalam kategori tipe lembaga Crescive Institution. Yaitu lembaga paling primer merupakan lembaga sosial yang tidak sengaja dibentuk dan tumbuh dari adat istiadat masyarakat.

Upacara pernikahan adat Betawi mencakup didalamnya norma-norma agama, hukum, dan sosial budaya (adat istiadat dan kepercayaan). Menurut Soekanto (1990) suatu norma tertentu telah melembaga (institutionalized) apabila norma tersebut diketahui, dipahami atau dimengerti, ditaati dan dihargai. Keberhasilan proses institusionalisasi dalam masyarakat dilihat jika norma-norma kemasyarakatan tidak hanya menjadi terlembaga dalam masyarakat, akan  tetapi menjadi terpatri dalam diri secara sukarela (internalized) dimana masyarakat dengan sendirinya ingin berkelakuan sejalan dengan pemenuhan kebutuhan masyarakat lembaga sosial umumnya didirikan berdasarkan nilai dan norma dalam masyarakat, untuk mewujudkan nilai sosial, masyarakat menciptakan aturan-aturan yang disebut norma sosial yang membatasi perilaku manusia dalam kehidupan bersama. Sekumpulan norma akan membentuk suatu sistem norma. Inilah awalnya lembaga sosial terbentuk. Sekumpulan nilai dan norma yang telah mengalami proses penerapan ke dalam institusi atau institutionalization menghasilkan lembaga sosial.

Oleh karena itu perkembangan budaya Betawi khususnya upacara pernikahan, harus kembali dibangun ke arah yang lebih positif dan kecintaan pada adat, tradisi serta budaya tersebut harus kembali ditingkatkan. Sehingga ke depannya nanti, upacara pernikahan adat Betawi akan menjadi sebuah institusi atau lembaga tersendiri yang berada di luar atau masuk dalam lembaga yang sudah ada seperti Lembaga Kebudayaan Betawi.

Kebanyakan orang bahkan orang Betawi sekalipun sudah jarang melakukan prosesi pernikahan karena semakin sulit menemukan masyarakat asli Betawi yang biasa menjadi “jawara” dalam prosesi “Buka Palang Pintu” dan lebih banyak mengikuti gaya modern yang praktis, mengakibatkan adat dan upacara pernikahan Betawi menunjukkan beberapa perubahan dan pengembangan. Menurut Parson dalam Lauer (2003) ada 4 jenis proses perubahan, yaitu:

1.       Proses keseimbangan, meliputi proses dalam sistem sosial.

2.       Perubahan struktural, mencakup perubahan fundamental dari sistem.

3.       Diferensiasi struktural, meliputi perubahan satu subsistem atau lebih tetapi tidak menyebabkan perubahan sistem secara keseluruhan.

4.       Evolusi, yakni proses yang melukiskan pola perkembangan masyarakat sepanjang waktu.

Dilihat dari pendapat Parson di atas, untuk menginstitusionalkan upacara pernikahan adat Betawi melalui proses keseimbangan meliputi proses dalam sistem sosial dan diferensiasi struktural. Proses tersebut akan mengalami evolusi dan akan lebih cepat jika kecepatan adopsi inovasi teknologi oleh masyarakat juga cepat sehingga akan terbentuk suatu institusi yang melembaga. Proses institusionalisasi ini meli­batkan seluruh elemen masyarakat, baik lembaga swadaya masyarakat (LSM), organisasi kepemudaan, serta pelajar (mengenalkan kebudayaan Betawi pada siswa sejak dini me­lalui sekolah-sekolah secara lebih intensif).

IV.  PENUTUP

Hasil kajian tentang upacara pernikahan adat Betawi sebagai sebuah institusi sosial masyarakat Betawi dapat disimpulkan bahwa upacara pernikahan adat Betawi sudah dapat dijadikan sebagai institusi sosial baru yang melekat atau berada di luar institusi yang sudah ada. Sudah semakin jarangnya masyarakat Betawi melakukan prosesi pernikahan karena semakin sulit menemukan masyarakat asli Betawi yang biasa menjadi “jawara” dalam prosesi “Buka Palang Pintu” dan lebih banyak mengikuti gaya modern yang parkatis, mengakibatkan adat dan upacara pernikahan Betawi menunjukkan beberapa perubahan dan pengembangan.

Dalam upaya pelestarian dan pengembangan upacara pernikahan adat Betawi, pemerintah khususnya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dituntut lebih aktif dalam pengelolaan kekayaan budaya Betawi dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat baik lembaga swadaya masyarakat (LSM), organisasi kepemudaan, serta mahasiswa/-pelajar. Sebab, budaya pada hakekatnya tumbuh dan berkembang pada ranah masyarakat pendukungnya. Untuk pengembangan dan pengelolaan dilakukan dengan cara :

1)       Penelitian termasuk didalamnya kajian lapor­an dan penda­laman teori kebudayaan  serta mem­persiapkan sarana dan pra­sarana pendukung dalam penelitian.

2)       Melaksanakan kegiatan pestival, penyebaran informasi dilengkapi foto dan audio visual, dan mengenalkan kebudayaan Betawi pada siswa sejak dini me­lalui sekolah-sekolah secara lebih intensif lagi.

3)       Merawat dan memelihara aset budaya agar tidak punah dan rusak.

Sejumlah langkah strategis dapat dilakukan oleh komponen masyarakat Betawi maupun para pemerhati budaya Betawi untuk merevitalisasi budaya Betawi terutama prosesi adat upacara pernikahannya, diantaranya :

(1)     Membentuk lembaga sosial baru yang terkait dengan upacara pernikahan adat Betawi.

(2)     Mulai tahun 2012 ini, menjadikan Kampung Setu Babakan di Kelurahan Srengseng Sawah Kecamatan Jagakarsa Jakarta Selatan akan menjadi pusat pengembangan Budaya Betawi. Sehingga masyarakat Betawi dengan mudah mendapatkan informasi, terutama terkait dengan pelaksanaan upacara pernikahan adat Betawi.

(3)     Membangun kantong-kantong budaya Betawi di lingkungan permukiman masyarakat Betawi, seperti di Setu Babakan, Condet, Cipete, Palmerah bahkan sampai Bekasi dan Tangerang.

(4)     Menumbuhkan kesadaran pentingnya memelihara kekayaan budaya tradisi melalui kantong-kantong budaya itu.

(5)     Membangun jejaring dengan berbagai pihak di luar masyarakat Betawi yang berbasis teknologi informasi yang menghasilkan informasi tentang budaya Betawi dan kemungkinan-kemungkinan pengembangannya (website, TIM, televisi, radio, rumah produksi, festival kesenian tradisional, penelitian dan penulisan buku).

(6)     Melakukan pemberdayaan masyarakat dengan mempertimbangkan potensi-potensi yang dimiliki (SDM, kondisi geografis) untuk peningkatan kualitas kehidupan melalui potensi kesenian, pariwisata.

(7)     Pemerintah dan lembaga swadaya masyarakat, universitas, dan lembaga-lembaga donor sebagai fasilitator dan rekan sekerja dalam revitalisasi budaya Betawi.

Indikator pencapaian langkah strategis itu adalah terbangunnya kantong-kantong budaya yang dikelola oleh masyarakat Betawi berdasarkan kesadaran pentingnya membangun jati diri secara potensial, terjalinnya jaringan kerja dengan berbagai pihak untuk meningkatkan kualitas kesenian dan pariwisata, dan lahirnya program-program nyata serta lahirnya upacara pernikahan adat sebagai institusi sosial baru.

DAFTAR REFERENSI

Gillin, John. Lewis dan John Philip Gillin. 1954.  Cultural Sociology. The Macmillan Company. New York.

Koentjaraningrat. 1987. Pengantar Ilmu Antropologi. Rineka Cipta. Jakarta.

Laur, Robert H. 2003. Perspectives on Sosial Change, Edisi Kedua, Alimandan SU (penterjemah) : Perspektif Tentang Perubahan Sosial. Rineka Cipta . Jakarta.

Lawang, Robert M.Z.,1985. Buku Materi Pokok Pengantar Sosiologi Modul 4–6, Jakarta, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Universitas Terbuk

Lestari, Eny. (2012). Lembaga Sosial. Disampaikan Dalam Kuliah Struktur dan Organisasi Sosial Program Pasca Sarjana. UNS. Surakarta.

Sztompka, Piotr. 2010. Sosiologi Perubahan Sosial, Cetakan ke-5.  Prenada Media Group. Jakarta

Soekanto, Soerjono. 1990. Sosiologi Suatu Pengantar. Rajawali Pers. Jakarta.

________. Upacara Pernikahan. http://id.wikipedia.org/wiki/Upacara_pernikahan. Diakses  pada tanggal 14 Januari 2012

________. 5 April 2011. Proses Lamaran Dan Pernikahan Pada Adat Betawi. http:// wartawarga.gunadarma.ac.id/2011/04/proses-lamaran-dan-pernikahan-pada-adat-betawi/. Diakses pada tanggal 14 Januari 2012.

Oleh : MJ

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: